Leadership

Kepemimpinan Kristen berhubungan dengan iman. Saya juga menyajikan resensi buku dan juga tulisan-tulisan hasil penyelidikan saya terhadap Alkitab.

Name:
Location: Bandung, West Java, Indonesia

I would like if we are together be a leader.

Monday, April 02, 2007

Karakter: Bertanggung jawab

Ada anak kecil yang diberikan uang jajan oleh orang tuanya. Tidak terlalu banyak. Anak ini setiap hari menabung dengan harapan dia bisa membeli sepeda. Ya, dia sangat menginginkan sepeda baru. Teman-temannya semua mempunyai sepeda bagus, hanya dirinya yang tidak mempunyainya. Bahkan karena keinginannya tersebut, tidak segan-segan anak ini membantu orang tuanya dengan harapan mendapatkan uang tambahan. Karena rajin, orang tuanya memberikan uang tambahan, persis seperti yang dia harapkan.
Suatu hari, kakaknya mengalami sakit keras. Orang tuanya pun mengeluarkan biaya yang sangat besar. Ternyata uang yang mereka miliki kurang. Biaya pengobatan sangat besar dan orang tuanya memerlukan uang tambahan. Anak tersebut bergumul,”bukankah ini uang saya? Ini adalah hak saya maka saya tidak mau memberikan untuk pengobatan kakak saya. Saya ingin sepeda karena itulah saya berusaha keras dan saya mendapatkan imbalan.”
Sebenarnya keadaan kita tidak jauh berbeda dengan anak terseut. Kita mendapatkan uang, entah dengan cara bekerja atau orang tua kita yang memberikan, kita mempunyai uang. Kita juga mempunyai sesuatu yang sangat kita inginkan. Itu bisa berupa HP baru, rumah, makanan, wisata ke suatu daerah, dan sebagainya. Kecenderungan manusia termasuk saya, menggunakan uang yang kita miliki untuk keinginan kita. Kita memang harus bertanggung jawab dalam menggunakan uang. Bertanggung jawab merupakan kata kunci dalam pengelolaan keuangan. Tetapi mengapa kita harus bertanggung jawab? Bukankah itu uang milik kita sendiri dan terserah kita dalam penggunaannya?
Rasa tanggung jawab bisa kita miliki kalau kita menyadari bahwa uang ataupun harta yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita. Semua itu adalah milik Allah dan kitalah pengelolanya. Kita memang bekerja, melakukan suatu usaha dan akhirnya mendapatkan uang. Sebagian dari kita berhikmat dalam penggunaannya lalu uang tersebut bisa menjadi rumah, kendaraan, atau mungkin investasi lainnya. Tetapi apakah kita mau menyadari bahwa semua itu diperolah atas ijin dari Allah? Bahwa semua itu adalah pemberian Allah? Saya berpendapat –dan Anda boleh berbeda pendapat dengan saya, semua harta itu sudah disediakan oleh Allah untuk kita. Sama seperti deposito di bank, kita sudah diberikan deposito oleh Allah, tentu saja atas nama kita. Jika kita lihat buku tabungan, sebenarnya tertulis banyak sekali uang di dalamnya. Hanay saja kita harus mengambilnya dan kita harus bertanggung jawab dalam penggunaannya.
Bagaimana cara mengambilnya? Sebelum manusia jatuh dalam dosa, kita langsung saja menikmatinya. Tetapi setelah itu ada prosedur yang harus kita lakukan untuk mengambil harta tersebut. Sama seperti ketika kita tidak bisa begitu saja mengambil uang di bank, demikian juga kita tidak bisa begitu saja menikmati harta tersebut. Beberapa orang harus bekerja keras, yang lainnya mendapatkan sebagai hadiah dari orang tuanya. Ada yang hanya mempu mengambil sedikit demi sedikit tetapi ada yang bisa mengambil banyak sekaligus. Ada yang mendapatkannya seperti orang beruntung misalnya menang undian, kuis, atau semacamnya tetapi ada yang harus kehilangan banyak terlebih dahulu sebelum mendapatkannya. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dan hasil yang berbeda pula. Tidak ada jalan yang bisa diberlakukan untuk semua orang. Lalu siapakah yang menentukan caranya? Menurut saya Allah-lah yang menentukannya. Berdasarkan apakah Allah menentukan hasilnya? Kembali menurut saya, berdasarkan seberapa bertanggung jawab orang tersebut.
Mungkin Anda menyangkal dengan memberikan bukti-bukti. Saya menyadari, banyak orang yang tidak bertanggung jawab tetapi memiliki harta yang melimpah. Anak orang kaya, hidup foya-foya, tidak pernah bekerja tetapi tetap kaya. Adakah yang seperti itu? Ada tetapi lihat saja, kehidupannya tidak bahagia. Dia ketakutan kehabisan uang. Dan sebenarnya uang mulai menjauh dari dirinya. Lihatlah terus maka tak lama lagi dia hidup dibawah kemiskinan. Bahkan beberapa diantara mereka mati mengenaskan (bisa karena narkoba, bunuh diri atau kecelakaan).
Penggunaan uang secara bertanggung jawab harus dilakukan bukan supaya kita mendapatkan lebih banyak uang lagi. Pertanggungjawaban dilakukan karena uang kita memang bukan milik kita melainkan milik Allah. Setiap harta kita adalah bentuk mandate dari Allah. Kita hanyalah pengelolanya. Kita memang mempunyai banyak keinginan, sama seperti anak di cerita diatas. Mungkin saat itu kita mempunyai uang tetapi ada orang dekat kita yang membutuhkan. Kita harus menyadari, uang kita bukan hak kita lagi melainkan hak Allah.
Komunikasi yang baik antara diri kita dengan Allah menjadi factor penting dalam pertanggungjawaban. Tidak semua keinginan harus dituruti bahkan kebutuhan pun tidak selalu harus dipenuhi. Saya sering berkonsultasi padaNya tentang penggunaan uang. Bahkan untuk hal-hal sepele seperti pembelian baju atau peralatan lainnya. Ketika HP saya rusak, saya tidak mau mengganti begitu saja. Saya tanyakan dulu ke Tuhan, apakah saya harus menggantinya? Sampai suatu hari saya mendapati bahwa HP saya tidak bisa dipakai sama sekali padahal saya membutuhkannya untuk berkomunikasi terutama dengan istri saya. Maklum saat itu saya ada di luar kota dan komunikasi kami hanyabisa dilakukan melalui HP. Saya berdoa, memutuskan, dan mencari. Saya meminta ke Tuhan untuk dia sendiri membantu saya dalam memutuskan HP seperti apa yang harus saya beli. Akhirnya saya memutuskan, HP yang tidak ada kamera. Karena berdasarkan pengalaman saya kamera di dalamnya sangat jarang saya gunakan. Saya berputar dari satu counter ke counter lain. Memegang suatu HP, mencoba, menawar dan memastikan ke Tuhan, apakah itu yang Dia inginkan untuk saya pakai? Beberapa HP sudah menunjukan kekurangan ketika saya memegangnya. Tidak sengaja atau lebih tepatnya Tuhan yang menunjukan kelemahan-kelemahan tersebut.
Komunikasi ke Tuhan menjadi bagian yang sangat penting dalam kita memutuskan tersebut. Mengetahui apa yang Tuhan inginkan, bergerak sesuai dengan keingianNya dan percaya penuh kepadaNya. Ada saat-saat kita akan diuji. Ketika itu saya dalam keadaan mempunyai sedikit uang. Tetapi ada seseorang yang sangat membutuhkan uang. Akhirnya kami (saya dan istri saya) memberikan bantuan setelah kami mendoakannya. Akibatnya memang kami harus berhemat untuk makan dan menahan diri untuk tidak melakukan pengeluaran banyak hal. Tetapi kami penuh suka cita karena kami tahu itu suatu bentuk pertanggungjawaban kami kepada Tuhan.
Kita hanyalah pengelola, seornag pengelola tidak berhak memutuskan banyak hal. Pengelola gedung, tidak berhak menjual gedung, pengelola bank juga tidak berhak memberikan uang ke orang lain diluar prosedur. Tuhan –sebagai pemilik- berhak menentukan untuk apa uang yang ada pada diri kita. Karena itu teruslah doakan ketika kita menggunakan uang kita. Dan gunakan dengan penuh tanggung jawab.
Seandainya saya menjadi anak kecil yang diceritakan diatas, saya akan datang ke orang tua saya. “Bapak, saya mempunyai uang sebesar sekian rupiah. Saya ingin membeli sepeda seperti teman-teman yang lain. Tetapi saya tahu, kakak sedang sakit dan membutuhkan banyak uang. Saya serahkan uang saya ke Bapak dan silahkan Bapak yang menentukan untuk apa uang ini digunakan.” Mungkin saja Bapaknya akan berkata,”Anakku, aku akan ambil uang ini terlebih dahulu dan bulan depan aku akan belikan kamu sepeda.”
Sebenarnya tidak terlalu penting jawaban Bapaknya. Yang penting anak tersebut sudah menggunakan uang tersebut secara bertanggung jawab. Dia memiliki tanggung jawab dan menganggap uang tersebut bukan haknya melainkan tetap hak orang tuanya. Saya berharap saya bisa seperti anak itu dan Bapa di surga adalah orang tua saya.

Bagaimana milioner hidup? Bagian 2

Pada bagian pertama sudah saya paparkan tentang hasil penelitian yang ada di buku The Millionaire Next Door. Tentu saja pembahasan dengan bahasa saya dan cara saya. Saya akan lanjutkan empat hal lain yang menjadi hasil penelitian tersebut tetang ciri khas milioner:
4. Orang tua mereka tidak memberikan tunjangan ekonomi.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut delapan puluh persen milioner Amerika adalah generasi pertama. Dengan kata lain, mereka menjadi milioner atas usaha mereka sendiri bukan warisan dari orang tua. Tujangan ekonomi dari orang tua ternyata membuat anak-anak mereka memiliki gaya hidup diatas kemampuan mereka sendiri. Banyak anak-anak milioner yang hanya memiliki pendapatan sedikit tetapi memiliki dua mobil, baju yang sangat bagus, rumah yang besar dengan biaya perawatan yang tinggi. Mereka bisa membiayai itu semua karena mendapatkan uang atau tunjangan ekonomi dari orang tua mereka. Akibatnya begitu tunjuangan itu dihentikan maka mereka menjadi miskin bahkan sangat miskin. Mereka berusaha memiliki gaya hidup seperti sebelumnya tetapi penghasilan mereka tidak mencukupi.
Sementara mereka yang tidak memiliki tunjangan ekonomi akan berjuang keras untuk memenuhi kehidupan mereka dan terus menghemat supaya mereka bisa bertahan hidup. Mereka sangat berhati-hati jika akan berhutang karena tidak ada sumber di luar dirinya untuk membayar hutang. Jadi mereka mempunyai kemampuan yang sudah terasah untuk menghasilkan uang dan berinvestasi. Berbahagialah mereka yang saat ini tidak mendapatkan tunjangan ekonomi dari orang tuanya karena mereka justru memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi kaya.
5. Anak-anak mereka yang sudah dewasa memenuhi kebutuhan ekonomi sendiri.
Saya cukup heran ketika melihat banyak orang keturunan yang menjadi kaya. Apakah karena mereka memiliki kemampuan lebih baik, diciptakan Tuhan khusus untuk berbisnis atau jaringan yang sudah sangat luas? Akhirnya keheranan saya terjawab ketika melihat mereka sudah dilatih sejak kecil. Sudah menjadi pendangan umum ketikamelihat mereka membantu orang tuanya sejak kecil. Ketika ke ITC Mangga Dua saya menuju ke salah satu took. Saya cari-cari penjual di toko tersebut tetapi yang saya temukan anak berusia sekitar 10 tahun. Ketika saya menanyakan harga sebuah pakaian, dia pun menjawab. Ketika saya mulai menawar, dia pun bisa menurunkan harga. Anak kecil sudah dilatih untuk mandiri secara ekonomi. Memang akhirnya kakaknya datang dan meralat harga yang sudah diturunkan adiknya itu. Saya pun pergi karena harganya dinaikan lagi oleh kakaknya.
Mereka yang menjadi milioner justru melatih anaknya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Hal ini bukan karena pelit tetapi karena mereka mengetahui itu penting supaya anaknya bisa bertahan hidup. Saya jamin, anak yang saya temui di ITC tersebut tidak akan kesulitan mencari kerja. Bahkan dia akan pandai berbisnis. Dia tidak akan menghambur-hamburkan uang. Berbeda dengan orang-orang yang saya temui di dalam suatu lingkungan dimana mereka mendapatkan tunjangan dari orang lain. Begitu tunjangan atau bantuan tersebut dihentikan mereka kembali menjadi miskin.
Gaya hidup anak-anak milioner tersebut tentu saja membuat orang tuanya tetap menjadi milioner. Tidak terjadi pemborosan yang tidak perlu bahkan mereka mendapatkan tambahan penghasilan karena anak-anak mereka bekerja dengan baik. Bukan hanya itu saja, gaya hidup anaknya menjadi jaminan buat orang tua mereka akan masa depan anak-anak tersebut. Mereka menjadi tenang di masa tua, tidak perlu merisaukan anak-anak mereka karena sejak awal sudah dilatih bagaimana caranya hidup. Sementara mereka yang memanjakan anak justru menjadi kuatir ketika memasuki masa tua, kawatir anak-anak mereka tidak mampu bertahan hidup.
6. Mereka ahli dalam membidik peluang pasar.
Fokus para milioner adalah mengembangkan kekayaan mereka bukan meningkatkan status social mereka. Sementara yang satu memikirkan tentang mobil yang baru, gaya hidup yang mewah, sang milioner justru mencari peluang-peluang baru. Dia berjalan ke tempat-tempat yang tidak terduga dan menemukan peluang pasar. Saya mendengar kisah Bob Sadino dari teman saya. Saat itu dia berjalan melihat peternakan kuda (bukankah orang yang mengutamakan status social tidak mungkin pergi ke tempat seperti itu?). Dia melihat kuda makan kangkung yang bagus. Bob pun mengintruksikan untuk memilih kembali kangkung yang ada. Seleksi, yang bagus dimasukan ke supermarket sedangkan yang jelek menjadi makanan kuda. Dia menggunakan system Quality Control sehingga menghasilkan pangsa pasar yang baru.
Sang milioner pun tidak akan kesulitan mencari modal. Bukankah dia memiliki uang yang cukup untuk memulai usahanya? Bukan hanya itu, karena dia tidak mengutamakan status maka dia bisa bergaul dengan orang-orang menengah kebawah dan mengerti kebutuhan mereka. Ketika dia sedang mengobrol dengan orang-orang di jalan maka dia melihat mereka adalah calon konsumen. Dia hanya tinggal mendengarkan dan meresponi dengan bisnis baru. Itulah mengapa mereka menjadi ahli dalam membidik peluang pasar.
Sementara itu mereka yang bergaul dengan orang-orang kaya juga membahas tentang bisnis baru. Tetapi kebanyakan dari bisnis tersebut sudah ada di pasar. Mereka hanya mengetahui tentang konsumen dari kata orang. Wajar kalau usaha mereka sering kandas di tengah-tengah jalan. Mereka cenderung mengikuti booming dan bisa dikatakan terlambat. Misalnya lagi booming factory outlet, mereka pun membuka foactory outlet tetapi sudah terlambat dan sudah anyak pesaing di dalamnya.
7. Mereka memilih pekerjaan yang tepat.
Ternyata pekerjaan seorang milioner sangat bervariasi. Bahkan diantara mereka ada yang menjadi pengendara truk. Ha? Mungkin Anda heran tetapi begitulah mereka hidup. Mereka memilih pekerjaan yang mereka senangi bukan sekedar gajinya besar. Tetapi mana mungkin seorang pengemudi truk bisa jadi milioner? Mungkin itu yang Anda tanyakan. Itu bisa terjadi karena mereka tidak hanya sekedar pengemudi truk. Mereka memiliki saham atau investasi di bidang lain. Investasi itu dibiarkan oleh mereka dan akhirnya menjadi sangat besar. Tetapi mereka memilih tetap membiarkan dan hidup hanya dari pekerjaannya yaitu pengemudi truk. Sebenarnya bisa saja dia beralih profesi apalagi dia mempunyai banyak uang.
Mereka yang menjadi milioner tidak takut kehilangan pekerjaan dan tidak tergantung pada penghasilan dari pekerjaan mereka. Mereka bisa berpindah kerja sesuka mereka dan sesuai dengan keinginan mereka. Yang menjadi alasan pertama mereka bekerja adalah mereka suka pekerjaan itu. Sementara beberapa orang yang pura-pura kaya justru sangat tergantung pada pekerjaan mereka. Alasan utama mereka bekerja adalah mendapatkan penghasilan lebih banyak lagi tidak peduli mereka suka atau tidak dengan pekerjaan tersebut. Tentu saja mereka sangat takut kehilangan pekerjaan mereka karena mereka tidak mempunyai cadangan uang untuk hidup setelah kehilangan pekerjaan.
Bagitulah ciri khas milioner hidup. Saya ambil intinya dari buku tersebut dan saya terangkan secara bebas supaya menjadi sederhana dan mudah dipahami. Jika ingin yang lebih detail saya sarankan belilah buku tersebut dan bacalah 365 halaman di dalamnya termasuk kata pengantar dan lampiran-lampiran. Saya tahu saya belum menjadi milioner tetapi saya yakin saya sudah on the track. Jika Anda belum menjadi milioner, pastikan Anda sudah on the track, pada jalurnya. Menjadi milioner itu bukan suatu dosa tetapi lebih baik dibandingkan menjadi pemboros.

Bagaimana milioner hidup ? bagian 1

Beberapa hari yang lalu, ketika saya ke Semarang, saya terlibat pembicaraan dengan beberapa teman. Temannya tentang seorang milioner. Siapakah seorang milinoner itu? Pertanyaan tersebut saya tanyakan ke beberapa teman. Walaupun mereka berasal dari keadaan yang berbeda-beda tetapi mereka menjawab dengan jawaban sama: mereka yang mempunyai uang banyak sekali. Jadi bagaimana supaya menjadi seorang milioner? Pertannyaan lanjutan yang saya ajukan. Jawabannya pun nyaris sama, mempunyai pendapatan yang besar, tinggal di rumah yang mewah, memiliki mobil dan hidup berkelimpahan.
Bagaimana dengan Anda? Apakah memiliki pendapat yang sama dengan teman-teman saya? Sebenarnya saya memiliki pendapat yang sama dengan mereka. Ketika mendengar kata milioner saya pun terbayang uang yang menumpuk di bank, bermilyar-milyar jumlahnya. Saya teringat orang-orang terkaya di dunia seperti Bill Gates atau olehragawan yang kaya seperti David Beckham. Mereka memiliki pendapatan yang luar biasa besarnya. Tetapi pandangan saya berubah ketika saya membaca buku The Millionaire Next Door (Milioner tetangga kita) karangan Thomas J. Stanley dan Willam D. Danko. Buku ini berdasarkan penelitian selama lebih dari dua puluh tahun dengan responden lebih dari sebelas ribu. Tentu penelitian tersebut merupakan bukti bahwa apa yang dinyatakan buku ini benar.
Milioner tidak didefinisikan dengan penghasilan lebih dari 100 juta misalnya. Tetapi milioner lebih ke berapa lama orang tersebut bisa hidup dengan harta yang mereka miliki tetapi mereka tidak lagi bekerja. Perhitungan yang dilakukan sederhana. Rumusnya adalah sebagai berikut:
(Umur x gaji satu tahun)/10
apakah harta yang kita miliki lebih besar dari hitungan tersebut?
Sebagai contoh Amir berumur 30 tahun. Penghasilannya satu bulan sebesar 2 juta. Jadi Amir akan dianggap milioner jika harta yang dia miliki lebih dari 30 x 2 juta x 12 / 10 atau 72 juta. Harta disini adalah sejumlah barang atau uang yang Amir miliki tetapi bukan pemberian atau warisan dari orang lain. Mengapa dengan hanya memiliki 72 juta Amir bisa dibilang milioner? Biaya hidup Amir kurang dari dua juta sehingga dengan uang tersebut dia bisa hidup selama tiga tahun tanpa bekerja. Definisi baru ini membuat saya sadar, bahwa milioner tidak hanya tergantung dengan harta yang saya miliki tetapi juga seberapa besar biaya hidup saya.
Dalam buku tersebut pun dituliskan tentang tujuh ciri khas seorang milioner.
1. Mereka hidup dibawah kemampuan mereka.
Kecenderungan orang akan menaikan pengeluarannya jika penghasilannya meningkat. Coba saja Anda amati dalam hidup Anda, jika ada penghasilan tambahan apakah yang akan Anda lakukan? Beberapa orang membeli baju baru, nonton di bioskop, makan di tempat yang mahal dan sebagainya. Baju pun tidak mau lagi menggunakan baju yang murah. Biaya hidup semakin meningkat bahkan tidak ada peningkatan dalam tabungan. Jika itu terjadi dalam diri Anda maka Anda tidak akan pernah menjadi milioner.
Mereka yang menjadi milioner bersikap sederhana. Mereka membeli rumah bukan di perumahan mewah. Karena posisi rumah menentukan gaya hidup dan bisa menyebabkan hidup diatas kemampuan mereka. Bayangkan kalau kita hidup di perumahan mewah. Disana tetangga memiliki mobil yang bagus maka malu buat kita ketika mobil kita sudah berumur lima tahun. Para tetangga mengecat rumahnya maka kita berusaha melakukan juga. Iuran di lingkungan tersebut juga lebih mahal. Ada untuk keamanan, sampah, pak RT atau iuran lainnya yang besarnya sampai lebih dari seratus ribu (padahal di lingkungan saya cuma tiga ribu lima ratus). Lokasi rumah kita sangat menentukan gaya hidup kita begitu pula teman-teman kita.
Bayangkan saja jika Anda berteman dengan orang yang gaya hidup mewah, bisa dibayangkan berapa banyak pengeluaran yang terpaksa Anda keluarkan. Ketika diajak makan siang bersama maka Anda akan meluncur ke tempat makan yang cukup mahal. Ketika diajak berjalan-jalan pun kita akan menghabiskan banyak uang. Seorang yang benar-benar milioner justru tidak terlalu terbawa gaya hidup teman-temannya. Saya sangat bersyukur karena memiliki teman-teman yang gaya hidupnya sederhana. Saya memang sengaja menghindari orang-orang tertentu karena gaya hidup mereka.
2. Mereka mengalokasikan waktu, energi, dan uang mereka secara efisien, dalam cara yang kondusif untuk mengumpulkan kekayaan. Kebanyakan dari mereka yang kaya akan memilih tempat investasi dengan sangat selektif. Tujuannya supaya kedepannya dia tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mengontrol atau terlibat dalam bisnis tersebut. Ketika melihat suatu bisnis mereka akan mengevaluasi terlebih dahulu. Mereka tidak tergiur dengan pernyataan cepat kaya atau keuntungan besar. Bahkan mereka melakukan wawancara khusus atau mengiklankan ke surat kabar supaya mereka bisa berinvestasi dengan aman. Susah diawal tetapi akan aman di kemudian hari. Dia sudah tidak perlu lagi menghabiskan energi dan waktunya dimasa yang akan datang.
Saat ini di Indonesia banyak sekali orang yang tertipu dalam investasi. Mereka tidak selektif di awal dan sangat tergoda dengan keuntungan besar yang berujung pada penipuan. Investasi dengan janji bunga 20% setiap bulan misalnya. Sang pemilik perusahaan menepati janjinya di bulan-bulan pertama tetapi tidak lama kemudia segera melarikan uang mereka. Akhirnya mereka kehabisan energi, waktu dan uang mereka karena janji-janji yang tidak ditepati. Mereka mengurus ke kepolisian, pengadilan, atau mencari pemilik perusahaan.
3. Mereka percaya bahwa kemerdekaan dalam keuangan lebih penting daripada memamerkan status social yang tinggi.
Saya mengenal orang-orang yang mengandalkan status social yang tinggi. Mereka tidak mau menggunakan motor yang biasa-biasa, inginnya yang wah. Begitu juga dengan jam tangan, baju, sepatu dan benda-benda lainnya. Merka sering menggunakan kartu kredit, memiliki lebih dari satu dengan harapan bisa pinjam uang lebih banyak lagi. Padahal batas kartu kredit dibuat berdasarkan penghasilan bulanan kita. Jika seharusnya memiliki batas 6 juta dan Anda menaikan dengan cara memanipulasi data menjadi 10 juta maka Anda tidak akan bisa membayar angsuran. Begitulah orang-orang yang mementingkan status social tinggi itu hidup. Tidak lama kemudian, mereka bekerja untuk membayar hutang dan angsurannya. Dia tidak merdeka secara keuangan. Bayangkan kalau suatu hari dia dipecat dari pekerjaannya, apa yang akan terjadi? Bob Sadino tampil dengan sangat sederhana. Bayangkan saja dia kemana-mana dengan menggunakan celana pendek. Atau kalau kitalihat orang terkaya Bill Gates. Waktu awal dia menjadi milioner, dia masih naik pesawat di kelas ekonomi. Dia tidak malu dan tidak mengutamakan statusnya.
Tetapi bagaimana dengan Donald Trump? Tentu Anda mengenal orang yang satu ini. Dia mengajarkan tentang pentingnya status social supaya bisa memiliki bisnis yang bagus. Ketika dia masih miskin dia bergaya jadi orang kaya bahkan mendaftar ke klub orang kaya dengan tujuan mendapatkan bisnis dari mereka. Trump memulai pekerjaan pertamanya dari koneksi tersebut. Dia rela hidup di tempat yang kumuh supaya bisa membayar biaya anggota di klub kaya tersebut. Sampai sekarang pun Trump masih mengutamakan status social yang tinggi. Lihat saja dia datang dengan helicopter atau mobil limosin yang wah.
Tetapi banyak diantara mereka yang mengutamakan status social tersebut yang akhirnya terlilit utang. Mereka berhutang untuk membeli mobil, dirinya memiliki empat mobil dan sering berganti-ganti mobil. Tujuannya supaya kelihatan memiliki status social tinggi. Akibatnya dia tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan bisnis baru yang ia peroleh tetapi hutang baru yang semakin hari semakin menumpuk. Akhirnya dia sendiri harus kehilangan rumah dan harta lainnya. Pilihan pada Anda, ingin seperti apa Anda hidup? Apakah seperti Trump dengan resiko menghadapi kegagalan yang sangat besar? Atau seperti kebanyakan milioner hidup yaitu mengutamakan kemerdekaan financial daripada status social?
Sebenarnya masih ada empat hal lagi yang akan saya bahas di bab berikutnya.

Monday, October 30, 2006

Integritas


Suatu sore istri saya bertanya ke saya,”Pernahkah sayang mempunyai keinginan untuk melihat film porno?” saya pun kebingungan menjawabnya. Sepertinya pernah, tetapi saya tidak tahu persisnya kapan. Jujur saya pernah menontonnya dan menginginkannya tapi saya sudah lupa kapan itu terjadi. Istri saya heran karena tidak pernah melihat saya menikmati gambar ataupun film porno.

Kalau misalnya tetangga saya yang tidak pernah melihat, itu wajar. Tetangga saya tidak pernah melihat kejelekan saya. Apakah saya menepati janji saya atau tidak, yang paling tahu istri saya. Apakah saya malas, dia juga yang paling tahu. Segala kebiasaan buruk saya, diketahuinya. Sehingga kalau Anda bertanya siapakah yang kemungkinan besar tidak menghargai kita? Jawabannya adalah istri Anda.

Secara sederhana integritas diartikan melakukan segala sesuatu yang sama walaupun ketika dia sendirian. Jika saya suka menikmati gambar porno maka seharusnya istri saya mengetahuinya. Sebagian waktu saya habiskan bersamanya. Seandainya saya berbohong maka istri saya yang paling tahu. Setiap hari saya berkomunikasi dengannya.

Bukan hanya itu. Saya pun sudah terlatih untuk hidup berintegritas. Sampai saat ini saya tidak bisa membuat tulisan semacam ini di kantor. Saya hanya bisa menulis artikel umum di rumah atau diluar jam kantor. Tidak peduli ada atasan saya atau tidak, ada yang melihat atau tidak, saya tetap tidak bisa melakukannya. Memang sih saya bisa melatih diri saya supaya kompromi dengan keadaan. Tetapi saya tidak melakukannya.

Integritas memang perlu kita latih. Saya masih ingat ketika dilatih oleh orang tua saya untuk hidup penuh integritas. Jujur terhadap diri sendiri, melakukan segala sesuatu bukan karena ingin dipuji sehingga tidak perlu bermuka dua. Ayah saya tidak perlu mengawasi saya untuk memastikan saya mengerjakan sesuatu dengan baik atau tidak. Integritas akan berbicara apa yang kita kerjakan ketika atasan kita tidak ada. Apakah kita tidak masuk akntor begitu mereka tugas keluar kota? Apakah kita hanya mau melakukan suatu kerjaan ketika mereka ada dan mengetahui kalau kita mengerjakan sesuatu?

Integritas memang berhubungan dengan menjadi diri sendiri. Seorang yang memiliki integritas tidak mungkin menjadi orang lain yang dia sendiri tidak kehendaki. Integritas lebih mengenai siapa diri kita bukan apa yang kita kerjakan. Integritas juga akan memebrikan kita keberanian melakukan sesuatu. Mereka yang memiliki integritas tidak bersembunyi ketika terdapat masalah dan pura-pura tidak mengetahuinya. Atau membiarkan anak buahnya yang memiliki kesalahan karena merasa takut bertindak benar.

Daniel menjadi tokoh yang sangat ideal dalam memberikan contoh tentang integritas. Dia tetap berani menerjang semua masalah di depannya. Aturan-aturan yang dibuat untuk menjatuhkannya memang benar-benar membuat Daniel jatuh. Bayangkan saja, dia harus masuk ke gua singa. Dalam sekejap saja seharusnya dagingnya sudah dicabik-cabik. Bahkan mayatnya sudah tidak dikenali lagi. Tetapi dia tetap menunjukan integritasnya.

Kunci untuk hidup berintegritas adalah percaya kepada Allah. Orang-orang yang bersembunyi dan melempar kesalahan kepada orang lain berarti dia tidak mempercayai Allah akan membantunya. Orang yang takut pada atasan juga berarti tidak emnghargai Allah. Allah mengetahui apakah dia bekerja dengan baik atau tidak. Mungkin atasan Anda menilai Anda sebagai orang terbaik, teman kerja yang lain emmberi tepuk tangan untuk Anda tapi Allah tetap mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Saya mengenal orang yang menurut saya tidak memiliki integritas. Dia bisa mengatakan yang berbeda dengan fakta untuk menyelamatkan dirinya. Memang sudah beberapa kali dia terselamatkan oleh kebohongannya tapi sampai kapan itu akan bertahan? Saya tidak perlu membuka aibnya, bahkan tidak perlu ada usaha dari siapapun, aib itu akan terbuka dengan sendirinya. Tinggal tunggu waktu.

Orang-orang di sekitar kita bukanlah orang yang bodoh karena itu merkea bisa hidup sampai saat ini. Terkadang kita merasa telah berhasil memperdayai mereka dengan kebohongan kita. Terkadang kita merasa telah berhasil menyembunyikan kebusukan kita dari mereka. Tetapi yang sering terjadi mereka mengetahui tentang keburukan kita. Hanya saja beberapa orang masih mempertimbangkan apa yang sebaiknya dilakukan, beberapa lagi masih tidak perduli, ada yang memaafkan dan ada juga yang menunggu waktunya untuk memberi hukuman pada kita.

Buat saya hidup berintegritas berarti menjadi diri sendiri. Saya salut terhadap teman saya yang mau mengakui kesalahannya. Akhirnya memang dia diberikan sanksi tetapi kejujurannya lebih berharga dari sebuah hukuman. Dia akan bersikap baik denagn tulus dan tidak pernah pura-pura bersikap baik. Tentu saja buat beberapa orang dia sangat menyebalkan tetapi begitulah dia, tidak pernah berpura-pura.

Orang yang hidupnya tidak memiliki integritas berarti mereka tidak menjadi diri sendiri dan juga tidak mempercayai Allah. Karena itu untuk melatih integritas kita harus belajar menjadi diri sendiri. Tidak perlu memakai topeng dengan rajin di gereja atau kegiatan rohani lainnya. Juga tidak perlu memakai kata-kata manis untuk mendapatkan kepercayaan dan temna-teman baru. Tampil seperti dirinya sendiri. Kalau memang tampilan kita masih belum memuaskan, perbaikilah tetapi tidak perlu memakai topeng.

Haruskah jadi pemimpin?

Sering kali saya mendengar sebuah pertanyaan, pemimpin itu diciptakan atau dipelajari? Sekarang, banyak sekali buku-buku tentang kepemimpinan. Mulai dari mencari visi, kekuatan pikiran, citra diri, pengaruh, dan pengembangan diri. Gereja-gereja pun berlomba-lomba mengadakan pelatihan kepemimpinan. Semua akan dijadikan pemimpin. Benarkah sikap seperti itu?

Saya teringat dengan kotbah pendeta saya tentang tanaman. Dia sampaikan bahwa banyak tanaman di dunia ini. Ada pohon pisang yang akan terus tumbuh walaupun batangnya di tebas. Tetapi begitu berbuah dia akan mati. Pohon pisang juga akan menghasilkan anak-anak di sekitar mereka. Ada juga pohon jati. Dia akan terus tumbuh batangnya, tinggi, mencoba menggapai langit. Pohon jati juga bisa berbunga tetapi bunganya kita abaikan. Saya tidak pernah melihat orang memanfaatkan bunga pohon jati. Tetapi juga ada pohon mangga. Dia akan terus berbuah pada musimnya. Ketika musim berbuah berhenti, dia akan terus hidup dan berbuah pada musim berikutnya.

Kurang lebih begitulah manusia. Ada seorang penginjil yang tidak menghasilkan seorang pun yang bertobat. Ada seorang yang selalu terbata-bata ketika harus berkotbah. Ada juga orang yang tidak pernah muncul di depan umum atau menunjukan kemampuan memimpin. Tetapi ada orang yang jago sekali menunjukkan kepemimpinan di depan orang hanya saja tidak ketika ketika sendiri. Apakah semua harus memperlihatkan sebagai pemimpin?

Saya sering menemukan pemimpin-pemimpin hebat di daerah-daerah. Saya kenal orang yang merintis gereja, berani berkorban untuk gerejanya bahkan memberikan gajinya sebagai jaminan hutang untuk pembangunan gereja. Walaupun dia bukan gembala sidang tetapi kepemimpinannya melebihi gembala sidangnya. Ada juga orang yang sangat dihormati oleh anak-anaknya tetapi dia tidak memegang posisi apapun di dalam gereja maupun masyarakat. Dibandingkan dengan Mother Theresia, Putri Diana, Susilo Bambang Yudoyono, atau tokoh lainnya, orang-orang yang saya kenal tersebut bukanlah apa-apa.

Banyak definisi tentang kepemimpinan. Secara umum kepemimpinan berarti memberi pengaruh. Buku-buku yang sekarang populer berbicara kepemimpinan sebagai teknik memimpin orang lain. Itu memang bisa dipelajari tetapi tidak selamanya. Harus ada kemampuan khusus yang memang dianugerahkan oleh Tuhan supaya seseorang dapat memimpin dengan baik. Kepemimpinan hanyalah salah satu karunia rohani.

Definisi kepemimpinan yang paling sering digunakan adalah pengaruh. Setiap orang yang memiliki pengaruh terhadap orang lain adalah seorang pemimpin. Tidak peduli posisinya, tukang sapu, direktur, presiden atau petani, mereka yang memiliki pengaruh adalah pemimpin sejati. Lihat saja kasus ketika Gunung Merapi akan meletus, siapakah pemimpin sebenarnya? Ternyata kepemimpinan Mbah Marijan bisa bersaing dengan presiden kita. Ketika presiden meminta masyarakat disana mengungsi, beberapa masyarakat tetap tinggal disana karena mengikuti saran Mbah Marijan.

Selama kepemimpinan lebih bersifat pengaruh, kita harus belajar melakukannya. Bukan berarti terus kita menjadi orang lain untuk mendapatkan pengaruh. Seperti Mbah Marijan, menjadi dirinya yang terbaik. Dia tidak berusaha mempengaruhi orang di sekitarnya. Yang dia lakukan justru menuju puncak gunung Merapi untuk melakukan apa yang dia anggap benar. Itulah inti menjadi pemimpin, tidak peduli dengan publisitas, kecaman, atau untung rugi. Mereka –para pemimpin- mengambil langkah yang mereka yakini benar dan siap menanggung semua risiko.

Kalau memang kepemimpinan didefinisikan seperti itu, apapun posisi kita, kita bisa menjadi pemimpin. Seorang ibu rumah tangga, dia harus menjadi pemimpin untuk anak-anaknya. Seorang manajer, harus memimpin anak buahnya. Bahkan kita harus memimpin (jika diartikan pemimpin adalah pengaruh) siapapun orang yang kita temui. Memberikan senyuman, sehingga dapat memberi orang lain kebahagiaan. Memberikan sapaan dan perhatian sehingga mampu memberikan semangat orang lain. Memberikan talentanya untuk memasak atau merangkai bunga sehingga dapat membuat perasaan orang lain lebih indah.

Tetapi jika kepemimpinan diartikan sebagai seorang yang memiliki posisi dan memegang kendali, saya minta maaf, saya mengatakan tidak semua orang memiliki kemampuan ini. Bahkan ketika dia Anda latih selama satu tahun, tidak ada kemajuan pesat. Mungkin dia bisa memimpin tetapi akhirnya dia tersiksa karena tidak menjadi dirinya sendiri.

Memang dunia membutuhkan banyak pemimpin. Tetapi sebagai pemimpin kita perlu membentuk seorang pemimpin sesuai dengan diri mereka. Tugas kitalah untuk menempatkan mereka seperti diri mereka sendiri. Dan tugas saya menempatkan diri saya sesuai dengan diri saya sendiri. Kita tidak akan pernah menjadi yang terbaik jika kita berusaha menjadi orang lain. Carilah dan kenalilah diri anda dan berilah pengaruh sebanyak mungkin kepada orang-orang di sekitar kita. Paling tidak kita bisa mengatakan bahwa dunia sedikit lebih baik dengan hadirnya kita. Bukankah begitu?

Be Your Self

Be your self


Kata-kata itu sangat bagus buat siapa saja. Jadilah dirimu sendiri, begitulah kira-kira dalam bahasa Indonesianya. Hanya saja betulkah itu yang terjadi pada diri kita? Suatu hari saya berdebat dengan seseorang, lalu saya katakana kepadanya,”Begitulah saya dan saya mau jadi diri saya sendiri.” Itu alas an saya supaya saya tidak berubah dan tidak perlu pusing-pusing melakukan perubahan. Tetapi apakah kata-kata be your self merupakan alasan andalan supaya kita tidak berubah? Seperti apakah menjadi diri sendiri?

Saya sangat kagum dengan prinsip hidup Warren Buffett. Dia adalah orang terkaya kedua setelah Bill Gates. Dia sering meng’akuisisi’ perusahaan lain. Dia juga –seperti Bill gates- memiliki yayasan untuk membantu masyarakat. Hanya saja dia memutuskan sesuatu yang luar biasa. Dia berencana memberikan 85% wariannya ke yayasan yang dimiliki oleh Bill Gates. Ops… tidak salah. Bagaimana orang yang terkaya kedua memberikan kekayaannya kepada yayasan orang terkaya di dunia? Itulah yang mengagumkan. Dia tidak memakai namanya, atau anak-anaknya. Dia justru memberikan kepada orang lain. Bagi saya, Warren Buffett telah mengenal dirinya dan dia tidak perlu lagi berupaya supaya dirinya terkenal. Bukankah luar biasa? Bukankah sekarang jamannya orang memberikan bantuan supaya dirinya dikenal orang?

Lihat saja bantuan bencana alam baik gempa maupun Tsunami. Bukankah mereka meminta nama mereka dicantumkan? Bahkan banyak artis yang menunjukan belas kasihan dengan datang ke tempat bencana lalu masuk ke dalam televise. Jadilah pamornya meningkat. Bagaimana dengan gereja? Ada gereja yang mengembar-gemborkan telah membantu sekian juta supaya dihormati oleh orang lain. Bagi saya, orang yang mencari nama sebenarnya orang tersebut tidak mengenal dirinya sendiri. Kok bisa?

Saya sering kagum dengan tokoh-tokoh terkenal. Luar biasa, mereka dapat melakukan banyak al dan dikenal di Indonesia. AA Gym misalnya, dia sebegitu terkenal tetapi tahukah Anda bahwa dia terkenal karena menjadi dirinya sendiri? Sepuluh tahun sebelum dia terkenal, dia sudah sering memberikan dakwah dengan warna yang seperti sekarang. Awalnya tidak banyak yang suka, terlalu umum dan kelihatan tidak Islami. Saya masih ingat ketika bertemu denganya –tujuh tahun silam- dia begitu sederhana, seperti sekarang. Tetapi AA Gym mengerti akan dirinya dan akhirnya dia bisa terkenal justru karena dia menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu mengikuti gaya Zainudin M.Z. Juga tidak mencoba menjadi orang lain.

Ketika kebanyakan orang sedang membuat kerajaan di dunia, Warren Buffett justru tidak melakukannya bahkan dia melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang kebanyakan orang lakukan. Ketika gerakan Islam menuju Islam yang fanatic dengan FPI atau kegiatan lain AA Gym justru memberikan Islam yang damai. Inilah yang saya sebut menjadi dirinya sendiri. Tidak harus sama dengan orang lain, tidak juga harus mengikuti tren yang sedang berkembang. Tidak perlu ikut memakai baju seksi karena memang lagi musim baju adik. Tidak perlu juga bikin KKR karena semua sedang bikin KKR. Atau sekarang lagi musim Camp baik untuk kepemimpinan atau camp untuk putra dan putrid. Jadi diri sendiri, berarti mampu memahami tentang dirinya dan berjalan sesuai dengan dirinya.

Wajar jika suatu gereja yang dipanggil untuk melayani pemuda lalu gereja tersebut menyesuaikan diri dan berjiwa muda. Tetapi tidak perlu buat gereja yang tidak dipanggil untuk melayani pemuda lalu ikut-ikutan. Sangat penting buat siapapun juga untuk menjadi diri sendiri bukan menjadi orang lain. Hanya saja, saya melihat banyak pemimpin gereja justru mencoba menjadikan gerejanya atau jemaatnya menjadi orang lain. Misalnya dalam suatu kesempatan saya mendengar semua orang harus ikut paduan suara, harus ikut acara ini dan itu. Harus menginjili minimal 100 orang dalam satu tahun. Tidak peduli kemampuan dan talenta orang tersebut, mereka harus melakukan seperti yang gereja inginkan (bukan Tuhan inginkan). Untuk melegalkan apa yang para pemimpin lakukan munculah ayat-ayat pendukungnya.




Wednesday, June 28, 2006

Salahkah saya?

Tuhan ampuni aku ketika aku mulai memandang rendah iman orang yang sedang menderita.

Saya sangat terkejut ketika mendengar Yogyakarta dilanda gempa. Tetapi saya lebih terkejut ketika mendengar komentar orang-orang Kristen yang memandang negatif terhadap orang-orang gempa. “Pak, itu namanya kutukan. Lihat, Aceh juga mengalami tsunami, lalu sekarang gempa di Yogyakarta. Daerah-daerah yang menganiaya orang Kristen akan berhadapan langsung dengan Allah. Di kota itu orang-orang tidak mempunyai iman.” Sebagian lagi berkata,”Sebentar lagi Tuhan datang kedua kali. Semua sudah digenapi.” Saya tidak mengatakan apa yang mereka katakan itu salah tetapi itu memang jadi salah kalau menjadi alasan tidak membantu teman-teman yanga mengalami bencana.
Sangat menarik buat kita untuk berkomentar ketika orang lain mengalami penderitaan. “Dia tidak mepunyai iman sehingga dia menderita.” Mungkin itu yang akan kita ucapkan pertama kali ketika kita melihat orang yang sakit mendadak. Atau ,”imannya terlalu kecil sehingga tidak dapat menyembuhkannya.” Apakah kata-kata ini rekaan saya? Sebenarnya tidak. Atasan saya yang sedang mengalami penderitaan menjadi sasaran pembicaraan tentang iman.
Saat itu saya mendengar ada pembicaraan yang menarik tentang iman. Atasan saya sakit kanker dan sudah lebih dari empat bulan mengalami penderitaan kemo terapi dan penderitaan lain yang saya tidak pahami. Banyak komentar tentnag sakitnya yang sebenarnya mendadak ini. Saya coba menuliskan beberapa diantaranya.
“Coba ibu beriman bisa sembuh tanpa kemo therapy. Dia harus percaya bahwa Allah adalah Allah yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Allah adalah Allah yang tidak pernah meninggalkan anaknya. Bukankah ada Firman, oleh bilur-bilurNya kamu sembuh. Ibu sekarang harus menderita karena imannya tidak cukup untuk menyembuhkannya. Bukankah ada Firman, oleh imanmu kamu sembuh? Masalahnya imannya menyatakan dia harus masuk rumah sakit dan menjalani kemo.” Untungnya atasan saya, seorang wanita tangguh tersebut, tidak mendengar perkataan ini. Bukan perkataan membangun tetapi sedang mencari alasan untuk dirinya sendiri mengapa atasan saya tidak sembuh secara ajaib. Sepertinya orang tersebut tidak memahami rencana Allah akhirnya menyalahkan orang yang justru sedang mendapatkan kehormatan untuk merasakan sedikit penderitaanNya.
Dilain pihak ada komentar lain yang menyalahkan Ibu karena tidak mau datang ke kebaktian mujizat. Ya, saya lihat Ibu sangat tegar dan imannya sangat kokoh. Hanya saja sikapnya itu dipandang negatif. “Dia mau ke dokter dengan biaya yang luar biasa besar tetapi mengapa dia tidak mau datang ke kebaktian mujizat? Sebenarnya kepada siapa dia menyandarkan diri, Allah atau dokter?” Seorang teman saya yang lain justru memuji sikap Ibu,”Saya sempat menanyakan mengapa dia tidak mau datang ke kebaktian mujizat. Dia tidak mencari kesembuhan. Dia mencari Allah. Dia memilih berada di dalam keheningan, di rumahnya, dan berbicara kepada Allah. Bagi saya luar biasa. Sementara ini kebanyakan orang mencari kesembuhan melalui kebaktian mujizat, dia justru memilih untuk mencari Allah.”
Banyak orang yang berkomentar. Sementara itu saya memilih mengatakan hal yang berbeda. ”Ibu, Musa mengalami penderitaan sebelum memimpin bangsa Israel, Yusuf juga mengalami penganiayaan. Yesus haurs kelaparan sebelum memulai pelayananNya. Mereka semua mengalami saat-saat menjadi bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Saya yakin Ibu sedang dipersiapkan ke pelayanan yang luar biasa seperti mereka.” Apakah perkataan saya hanya perkataan penghiburan? Menurut saya tidak, karena itulah yang saya yakini sedang terjadi pada diri Ibu.
Beribu-ribu tahun yang lalu, ada orang yang mengalami nasib lebih parah dari Ibu. Dia kehilangan anak-anaknya, hartanya, rumahnya dan akhirnya istrinya. Bukan hanya itu, dia juga kehilangan kesehatannya. Penderitaan luar biasa menyakitkan. Teman-temannya pun datang. Entah sejak awal mereka ingin menegurnya atau sebenarnya mereka ingin menghiburnya. Ayub, di dalam penderitaan yang sangat menyakitkan, justru mendapatkan teguran. Dia dianggap bersalah. Kalau Ayub hidup pada saat ini orang akan bergunjing,”Mungkin dia tidak memberikan persepuluhan sehingga bencana menghampirinya.” Atau ,”Dia tidak mengenal Allah dengan baik, imannya tidak mampu menyelmatkannya.” Atau, ‘Jangan kau salahkan Tuhan. Ini murni kesalahanmu. Coba kamu cari tahu dosa apa yang telah kamu lakukan. Bertobatlah dan kemabli kepadaNya.”
Apakah penderitaan selalu berbicara dosa si penderita? Ingatlah bahwa Ayub tidak bersalah. Apakah itu juga selalu berbicar tentang kurangnya iman? Bagaimana dengan Yesus? Dia mengalami penderitaan yang luar biasa tetapi bukankah Dia sendiri tidak berdosa? Bukankah imanNya juga sangat besar? Siapa yang bisa menyangkalnya? Ya, Anda bisa berkata itu karena dosa orang-orang yang sedang Dia selamatkan. Bagaimana pula dengan Yusuf, Musa? Anda juga bisa berkata,”Ya, tapi kan semua berakhir dengan bukti bahwa mereka mempunyai iman. Lihat saja mereka semua menjadi pemimpin besar.” Apakah kasus atasan saya tidak akan berakhir dengan bukti bahwa dia mempunyai iman? Siapa tahu, semua kan belum berakhir. Lalu kalau akhirnya sebuah kematian apakah berarti tidak ada iman? Bagaimana dengan Petrus dan Paulus? Bukankah mereka mengalami penderitaan bahkan sampai mati?
Satu bukti kecil, sakitnya atasan justru memberkati istri saya. Dia menemani Ibu ketika kemo dan dia melihat iman yang besar. Dia melihat perjuangan seorang Ibu dalam menghadapi penyakit. Dia melihat kuasa Tuhan bekerja did lam dirinya. Ya, istri saya berada di sisinya ketika dia kemo sehingga istri saya mendapatkan kehormatan melihat iman atasan saya. Bukankah dalam keadaan tidak berdaya pun Tuhan bisa bekerja untuk mendatangkan kebaikan?
Satu hal penting. Daripada terus menerus meikirkan mengapa seseorang di dekat kita menderita lebih baik kita meolongnya. Tidak usah banyak berkata-kata, atau beradu argumentasi bahkan semua ayat keluar dari mulut kita. Diam saja dan melakukan sesuatu lebih baik daripada mencari landasan Firman Tuhan untuk membenarkan perkataan kita. Tidak ada yang tahu mengapa seseorang menderita. Walaupun dulunya jahat itu bukan sebuah bukti kalau dia menderita karena menabur kejahatannya. Biarlah itu menjadi rahasia Allah. Bagian kita menunjukan kasih Allah kepadanya. Percayalah, ketika dia merasakan kasih Allah dia akan semakin dekat dengan Tuhan.

Buka mataku

“Tuhan, tolong buka mataku sehingga aku dapat melihat keperkasaanMu.”

Siapa yang tidak percaya kalau Allah itu perkasa? Sebagai umat Kristen yang baik, tentu saja saya percaya. Bukankah Dia Allah yang menciptakan langit dan bumi? Bukankah Dia bisa melakukan apapun di dunia ini? Bahkan Dia bisa membuat aku menjadi presiden saat ini juga. Dia bisa melakukan hal yang mustahil bagi kita. Setiap hari Dia menolong kita, membuat kita bisa bangun pagi dan mengakhiri aktifitas di malan hari. Dia yang memampukan kita untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh atasan kita. Mana mungkin Allah tidak perkasa?
Tapi sikap saya menunjukan ketidakpercayaan saya. Saat itu saya ada di Waingapu, sebuah kota di pulau Sumba, NTT. Jadwal sudah saya atur sejak sebelum saya berangkat ke Waingapu. Sengaja saya buat jadwal yang sangat ketat supaya saya bisa secepat mungkin bersama istri saya di rumah. Hanya saja saya mendapat masalah besar. Saya tidak mendapatkan tiket untuk ke Bali di tanggal yang sudah ditentukan. Saya masuk ke daftar tunggu. Padahal saya sudah janji melakukan sesuatu di Bali pada tanggal tersebut dan janji harus ditepati.
Memang sudah beberapa bulan (bahkan lebih dari satu tahun) ini pesawat sering bermasalah. Katanya mereka sering merugi sehingga pesawat akan ditunda jika penumpangnya sedikit. Apalagi kondisi pesawat yang rata-rata sudah tua mengakibatkan adanya perawatan di waktu-waktu tertentu. Saat itu di hotel banyak penumpang yang tidak dapat terbang walaupun sudah mendapatkan tiket. Tentu saja alasannya tidak jelas dan cenderung dibuat-buat. Pelayanannya pun tidak memuaskan. Bahkan pernah tas berisi pakaian milik saya ditinggal di Denpasar dan tidak ada pertanggung jawaban sama sekali dari pihak perusahaan penerbangan.
Saya menceritakan masalah tiket tersebut ke pegawai hotel. Dia siap mengurus asalkan saya mau bayar lebih. Saya pun minta ijin ke atasan saya untuk membayar lebih. Transaksi dilakukan dan jadilah saya memenuhi janji saya di Bali. Semua jadwal berjalan dengan baik. Kerugian besar karena tertundanya penerbangan bisa dihindari. Semua orang senang. Atasan saya pasti senang karena saya bisa mengerjakan semuanya sesuai dengan jadwal. Pegawai hotel tersebut juga senang karena mendapatkan uang tambahan. Saya pun senang karena bisa bertemu dengan istri saya secepat mungkin. Tetapi ada yang salah. Benarkah Tuhan senang?
Kekuatiran dalam diri saya sebenarnya disebabkan ketidakmampuan saya melihat keperkasaan Tuhan. Bukankah Tuhan bisa membuat seseorang menunda keberangkatannya sehingga saya bisa tetap berangkat? Tapi tunggu dulu, dari cerita yang ada memang banyak permainan di bagian tiket. Mereka yang bisa bayar lebih akan mendapatkan tiket dan bagi yang tidak bisa maka penerbangannya akan ditunda. Bahkan sebenarnya ada kursi kosong hanya saja itu diperuntukan orang-orang yang mudah tertipu seperti saya. Tapi bukankah Tuhan itu berkuasa atas setiap manusia termasuk orang yang menangani tiket?
Saya jadi teringat dengan kisah bujang Elisa. Saat itu Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel. Raja tersebut mengatur strategi tetapi selalu saja strateginya gagal karena ada orang yang membocorkannya. Dengan marah raja Aram tersebut bertanya siapakah yang membocorkan rencananya, maka dijawab,”Elisa, nabi yang di Israel.” Memang Elisa tidak bersama Raja tersebut bahkan tidak di negeri Aram. Dia di Israel. Maka Raja Aram mengubah strategi. Dia akan menyerang Elisa terlebih dahulu. Sebuah strategi yang sangat bagus.
Rencana pun dibuat. Mereka mengepung kota Dotan, dimana Elisa berada. Bujang Elisa bangun pagi-pagi dan melihat pengepungan tersebut. Ketakutan ada di dalam dirinya. Dia pun menemui Elisa dan berkata,”Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” Apa yang akan Anda perbuat jika dalam keadaan seperti itu? Lari? Ya, mungkin itu pilihan yang paling tepat. Mana mungkin bisa menghadapi pasukan sebanyak itu. Tapi timbul masalah lainnya. Mau lari kemana? Bukankah kota itu sudah dikepung? Bisakah meloloskan diri? Pilihan lainnya adalah menyerahkan diri. Mungkin ada kebijaksanaan dari Raja Aram jika dia menyerahkan diri. Mungkin dia akan dibebaskan atau paling tidak dia dihukum perjara sehingga nyawanya tidak melayang. Pilihan bagus. Atau seandainya ada harta maka dia akan serahkan hartanya untuk mengganti nyawanya? Nah, yang ini lebih bagus.
Hanya saja yang bujang Elisa pilih justru pilihan yang menurut kita sangat jelek. Dia tunduk dengan pilihan Elisa, pilihan yang tidak masuk akal. Elisa datang ke tentara Aram, membawa mereka ke tengah-tengah Samaria. Tentara tersebut menjadi tawanan tentara Israel. Tetapi Elisa justru meminta bangsa Israel untuk memberi mereka makan dan minum dan membebaskan mereka (bukan membunuh). Ya, datang ke musuh, membuat musuh tidak berkutik, berbuat baik kepada mereka lalu membebaskan mereka.
Memang tidak diceritakan kisah bujang Elisa dan apa yang dia lakukan. Tetapi doa Elisa sangat bagus,” Ya Tuhan, bukalah kiranya matanya supaya melihat.” Maka Tuhan membuka mata bujang itu sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi di sekeliling Elisa. (2 Raja-raja 6:17). Sering kali saya ketakutan seperti bujang tersebut. Musuh di depan sangat banyak. Keadaan sangat tidak menguntungkan saya. Posisi saya terjepit. Sepertinya tidak mungkin saya lolos dari bahaya. Saya harus menyerah supaya saya tidak diserang.
Bagaimana mungkin saya mengatakan saya beriman jika saya selalu mengatakan ya pada atasan saya karena saya takut dipecat atau tidak naik gaji?Apakah itu iman jika saya menyimpan kebenaran dalam laci meja dan mengeluarkannya hanya pada hari minggu? Apa yang terjadi ketika saya di serang orang lain? Bagaimana dengan aksi kekerasan yang terus terjadi di bangsa ini? Bukankah setiap hari kita mendengar ancaman-ancaman? Baca koran, nyalain televisi maka ancaman si musuh terus terdengar. Beranikah saya berjalan malam-malam di tempat sepi yang terkenal kejahatannya? Jujur, saya pernah mengalami ketakutan bahkan sering. Karena itu wajar jika saya berdoa, “Tuhan, tolong buka mataku sehingga aku dapat melihat keperkasaanMu.”

Siapakah sesamaku?

“Tuhan, mampukan aku untuk melihat sesamaku dan berbuat sesuatu untuk mereka.”

Ketika melihat seorang pengemis yang masih muda, apa yang ada dipikiran Anda? Mungkin sama dengan yang dipikiran saya, dia pemalas. Coba seandainya dia mencari kerja, jadi buruh atau jadi apa saja, yang penting tidak mengemis. Bagaimana kalau pengemis itu masih anak-anak? Saya akan berpikir, kasihan anak kecil sudah mengemis. Dimana orang tuanya? Bagaimana mungkin mereka membiarkan anak-anak mengemis? Dimana rasa tanggung jawab mereka? Seandainya saya punya anak, saya tidaka akn membiarkan mereka mengemis di tepi-tepi jalan. Kalau pengemis sudah tua? Saya akan berpikir, dimana sih anak-anak mereka? Bukankah seharusnya orang ini menikmati masa tuanya di rumah. Lihat, jalan saja dia sudah susah apalagi harus mencari uang. Atau jangan-jangan orang ini dimasa mudanya hanya bersenang-senang, sekarang baru tahu akibatnya. Makanya sejak muda harus memikirkan masa tua. Semoga Anda tidak seperti saya.
Berbeda dengan istri saya. Dia tidak berpikir banyak. Dia akan mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya lalu diserahkan ke orang tersebut. Sering saya mengingatkan dia,”Hati-hati sayang, jangan-jangan dia menipu kita dengan penampilannya.” Tapi dia tidak akan berpikir panjang untuk memberikan sejumlah uang. “Tapi sayang, nanti mereka menjadi tergantung. Itu tidak baik buat mereka.” Lanjutku untuk mengingatkan dia. Tapi istriku tetap melakukannya. Mana yang lebih baik, saya atau istri saya? Apakah dia melakukannya karena kami memiliki banyak uang sehingga kami bisa memberikan uang seenaknya? Tentu tidak, bahkan kami harus berhemat untuk keperluan sehari-hari.
Saya sering terlalu banyak berpikir tetapi sedikit bertindak. Ketika mendengar terjadi bencana gempa di Yogyakarta saya pun mempunyai banyak rencana. Salah satunya datang ke tempat mereka. Tapi sampai saat ini saya belum ke sana. Alasan-alasan pun bermunculan. Saya akui, alasan itu sangat masuk akal. Sama dengan alasan untuk tidak memberi ke pengemis juga sangat masuk akal. Masalahnya itu benar atau tidak?
Sekitar tiga tahun lalu, ketika sedang keluar kota mobil yang saya sewa dihentikan oleh banyak orang. Saya hanya bersama satu teman dan sopir. Tenang saja, itu bukan kerusuhan seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Di depan ada kecelakaan yang mengakibatkan empat orang terluka dan dua diantaranya terluka parah. Sepertinya anak-anak muda yang sedang bergaya dengan memacu motornya sekencang-kencangnya. Penduduk di situ meminta kami berhenti dan membawa para korban ke rumah sakit terdekat. Tanpa banyak pikir, kami pun memenuhi permintaan mereka. Empa orang masuk mobil. Darah mereka menetes di jok mobil tapi biarlah. Siapa mereka? Saya juga tidak tahu. Yang jelas, kami bawa mereka masuk rumah sakit lalu kami tinggal disana. Selanjutnya, kami tidak tahu lagi apakah dia masih hidup atau tidak.
Bukankah yang saya lakukan sudah sangat baik? Beberapa mobil di depan saya menolak untuk membantu mereka. Mereka sama sekali tidak peduli. Tapi ngomong-ngomong, mengapa saya hanya membantu mereka sampai rumah sakit? Mengapa saya tidak membantu biaya rumah sakit mereka, membawa kabar ini ke keluarga mereka atau hal lainnya? Saya memiliki banyak alasan. Memangnya saya yang menabrak mereka sehingga saya yang harus bertanggung jawab? Darimana uang yang saya dapat? Tapi kan saya mempunyai jadwal lain yang harus saya lakukan?
Sebenarnya, masalah utama justru karena saya tidak mempunyai iman. Saya mengkawatirkan jadwal kerja, keuangan, atau hal-hal buruk lainnya yang bisa terjadi jika saya melakukan kebaikan tersebut. Saya tidak percaya kalau Tuhan akan menolong saya jika saya menolong dia. Mengapa juga saya tidak membawa pengemis itu ke rumah, memberi makan, mempersilahkan istirahat dan akhirnya membiarkan mereka pergi lagi? Karena saya kuatir, jangan-jangan makanan yang ada tidaka akn cukup lagi untuk saya dan istri saya. Saya kawatir kalau pengemis tersebut justru mencuri barang atau mencelakai kami. Saya kuatir, pengemis tersebut akan datang setiap hari untuk meminta makan bahkan dia akan mengajak teman-teman lainnya. Saya kawatir….
“Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.” Kira-kira apa yang ada di dalam pikiran seorang imam tersebut? Tidak tertulis di Alkitab tetapi saya akan mengandai-andai. Saya membayangkan dalam keadaan seperti yang diceritakan diatas. Saya menjadi seorang imam yang bertemu dengan orang yang memerlukan pertolongan itu. Mungkin saya akan berpikir, orang itu adalah orang yang mempunyai banyak dosa sehingga Tuhan menghukum dengan cara yang sangat sadis. Kalaupun ornag itu tidak berdosa mungkin orang tuanya atau saudaranya. Yang jelas orang itu sedang mengalami kutuk. Salah siapa dia tidak hati-hati sehingga bisa dirampok. Kenapa dia tidak mencari teman berjalan supaya aman? Mengapa dia bukan imam seperti saya yang tidak mungkin dirampok karena orang seperti saya sangat dihormati?
“Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.” Mungkin orang Lewi ini berpikir tidak jauh berbeda dengan imam. “Jangan-jangan saya akan dianiaya juga oleh para perampok jika saya menolong orang ini. Saya harus berhati-hati, jangan sampai orang ini hanya berpura-pura dan memanfaatkan kebaikan hati saya. Apa sih untungnya saya menolongnya, lagipula tidak ada seorangpun yang melihat saya. Apakah dia nanti akan membalas kebaikan saya? Memangnya dia seorang yang percaya Tuhan? Siapa sih dia?” Yang jelas sikap orang Lewi sama dengan imam, melewatinya dari seberang jalan.
Tetapi berbeda dengan orang Samaria, ia datang ke orang itu membalut lukanya, memberi uang ke orang lain untuk merawatnya bahkan menjamin pembayaran jika memang uang yang diberikan itu kurang. Orang Samaria itu bukan hanya menunjukan kebaikan hatinya tetapi imannya. Saya tidak tahu persis apa agaman orang Samaria tersebut. Tidak diceritakan tetapi kerelaannya menolong orang bahkan akhirnya dia tidak kawatir akan hidupnya. Yesus pun mengatakan,”Pergilah dan berbuatlah seperti orang Samaria.”
Apakah saya mempunyai iman untuk melakukan itu semua? Akhirnya saya katakan saya tidak mempunyai iamn seperti itu. Dan saya pun berdoa, “Tuhan, mampukan aku untuk melihat sesamaku dan berbuat sesuatu untuk mereka.”

Jangan sampai sombong

“Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
“Saya kan orang yang sangat beriman. Setiap perkataan pendeta selalu saya amini. Saya selalu pergi ke gereja bahkan tidak hanya hari minggu. Setiap waktu saya habiskan di gereja mulai kebaktian pagi, latihan paduan suara, PA, dan banyak kegiatan lainnya. Lihat saja posisi yang saya pegang. Selain menjadi pekerja saya juga pelayan mimbar. Setiap pagi sellau doa pagi, setiap minggu saya berpuasa, tidak pernah saya melupakan satu pun perintah Allah. Saya bisa berbahasa roh dan gereja sa pun penuh roh Kudus. Bukankah saya seorang yang luar biasa?” Mungkin perkataan diatas mewakili Anda tetapi tidak mewakili teman saya anggaplah namanya Ira.
Saya dan sitri saya mempunyai janji bertemu dengan Ira, malam itu. Dia ingin melakukan pengakuan dosa. “Rasanya hanya saya yang tidak pantas untuk kebaktian di gereja tersebut. Semua disana orang suci. Dari perkataan mereka, setiap berkat yang mereka bagikan dan semua tingkah laku mereka. Sepertinya mereka semua makhluk suci yang sengaja Tuhan tempatkan di sekitar saya. Mereka melakukan pelayanan yang luar biasa. Sedangkan aku….” Dia terhenti sejenak. Suasana di sekitar kami saat itu sebenarnya tidak menyenangkan. Ada bunyi musik yang cukup keras membuat kami harus menajamkan telinga dan memperkeras suara kami. Kami telah salah memilih tempat tapi waktu kami sangat terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk memilih tempat lain.
“Beberapa saat yang lalu aku dan teman-temanku pergi ke suatu tempat. Masing-masing dengan pacarnya. Kami berenam ngobrol di ruang tamu sampai akhirnya kedua temanku dengan pacar mereka masuk kamar. Ya, masing-masing masuk satu kamar, berdua. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Aku pun bingung. Tinggal satu kamar yang tersisa dan tinggal aku dan pacarku. Akhirnya kami masuk kamar berdua. Memang tidak terjadi apa-apa malam itu tapi aku sangat menyesal. Kenapa aku bisa seperti itu? Satu kamar dengan lelaki? Kami tidur di tempat yang sama? Jangan kamu pikir terjadi macam-macam. Tidak, kami tidak melakukan seperti yang kamu pikirkan.” Lanjutnya. Aku pun tidak banyak berkomentar. Sampai saat ini pun saya tidak tahu apa yang telah terjadi, tidak mau menebak-nebak apalagi bertanya. Bukan wewenang saya dan saya memang tidak punya hak untuk tahu.
“Aku bingung, mau cerita ke siapa. Kata teman-temanku, itu hal yang biasa dan memang tidak terjadi apa-apa di dalam kamar. Ketika aku ke gereja ikut kelompok PA, aku pun merasa tidak layak. Mana mungkin aku berani cerita ke mereka? Bukankah mereka orang-orang suci? Lihat saja perkataan mereka, ketika mereka bernyanyi kelihatan kudus banget. Akhirnya aku teringat kamu dan bercerita kepadamu.” Saya tahu perkataan tentang teman-teman persekutuannya sebagai orang kudus itu tulus. Bukan sindiran ataupun kritikan walaupun saya kenal seorang diantara mereja yang pernah beberapa kali sekamar dengan lelaki. Tetap saja Ira melihat orang itu sebagai orang kudus.
Saya senang Ira bercerita ke saya karena itu sama artinya dia mengagap saya bukan orang kudus. Ya, saya akui saya bukan orang kudus. Saya hanya seminggu sekali ke gereja. Saya juga tidak mau berpura-pura menjadi kudus. Saya tidak mau mengatakan haleluya atau bergaya rohani supaya terlihat kudus. Tetapi yang lebih membuat saya senang, sikap seperti Ira inilah yang disukai oleh Tuhan.
"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Rohani sekali. Pernahkah Anda berkata dalam batin Anda seperti itu? Yang jelas, menurut cerita Ira, banyak orang yang seperi itu. Membagi berkat tentang keberhasilannya dalam melakukan perintah Tuhan lalu mendapatkan pujian dan minimal tepuk tangan.
Tetapi apa yang terjadi dengan pemungut cukai,” Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Sikap dia seperti sikap Ira, mengakui bahwa dirinya bukan orang suci melainkan orang berdosa. Berapa banyak orang yang berlaku seperti pemungut cukai? Saya sedang belajar seperti Ira, merendahkan diri di hadapan Allah. Melihat kembali bahwa apapun yang telah saya lakukan merupakan kasih karunia dari Allah. Iman yang ada di dalam diri saya bukan karena usaha saya melainkan karena pemberian Tuhan. Mengakui di hadapan Tuhan akan dosa saya dan meminta belas kasihan Tuhan.
Bagaimana sikap Tuhan atas dua orang tersebut? “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Penghormatan justru diberikan ke orang-orang seperti Ira bukan seperti teman-temannya.
Bagaimana dengan orang-orang yang di gereja? Seorang pendeta pasti memiliki iman yang luar biasa, murni dan kudus di hadapan Allah? Kalau memang benar, berapa banyak pendeta yang membayar pajak penghasilan? Pernahkah mendengar pendeta yang berzinah dengan pembantunya sejak beberapa tahun lalu? Bahkan selama perzinahan mereka berkotbah tentang kekudusan? Pernahkah melihat seorang Worship Leader (WL) yang menggoda istri orang tetapi tetap saja menjadi WL? Pernah mendengar seorang yang terkena kasus penggelapan uang tetapi masih membuat mujizat?
Masih adakah ketakutan terhadap Allah sehingga kita menunduk di hadapanNya, memukul diri dan mengatakan,”Ya Allah ampunilah aku orang berdosa ini.”?

Berikan keberanian

“Tuhan, berikan aku keberanian untuk melangkah sehingga hanya kehendakMulah yang terjadi.”

Saat itu saya sedang bersantai di rumah orang tua saya. Saya emmang mengambil libur supaya bisa bertemu dengan orang tua saya dan memberikan perhatian untuk mereka. Saat itulah pacar saya memberitakan kabar buruk. Ada benjolan di payudaranya. Dokter menamakan benjolan itu tumor dan minta segera dioperasi. Saya sangat terkejut apa lagi kekasih saya, pasti lebih terkejut dan sedih. Tetapi tidak perlu waktu lama bagi saya untuk memutuskan.”Sayang, kita coba ke dokter lain untuk memastikan dan mendapatkan second opinion. Kalau memang harus dioperasi, kita akan menikah sebelum operasi itu dilakukan. Aku akan menikahimu.”
Kami mencari dokter lain, pedapatnya masih sama, harus segera dioperasi. Kami juga menanyakan, berapa lama operasi dapat ditunda tetapi tidak membahayakan kekasih saya. Dua bulan masih aman. Maka kami melakukan persiapan pernikahan dalam waktu kurang dari dua bulan. Pernikahan dilakukan dengan sangat sederhana, operasi juga dilakukan tiga minggu setelah menikah. Sekarang, kami hidup bahagia.
Keputusan saya untuk menikahinya adalah keputusan terbaik setelah keputusan saya untuk menerima Kristus. Saat itu saya tidak mempunyai uang bahkan untuk menikah. Sehingga kami putuskan untuk menikah secara sederhana bahkan sangat sederhana. Untunglah ada teman saya Pak Arya yang mau menjadi fotografer (kalau tidak ada dia, kami tidak akan punya foto-foto pernikahan). Ada teman-teman lain yang menyumbang cukup besar sehingga saya mempunyai biaya untuk operasi. Juga ada orang tua saya yang memberikan modal untuk hidup. Tapi itu semua datang setelah saya memutuskan untuk menikahinya.
Sampai saat ini sebenarnya saya sendiri tidak mengerti darimana keberanian itu muncul. Beberapa teman saya berkomentar kalau keberanian saya itu konyol. Saya tahu, tumor itu bisa saja ganas dan akhirnya akan membuat saya masuk kedalam kesulitan yang luar biasa besar. Tetapi bisa juga tumor itu jinak sehingga operasi kecil dapat menghilangkannya. Dokter saja tidak tahu apalagi saya. Apakah saya seorang yang luar biasa sehingga dapat memutuskan seperti itu? Saya kira tidak. Jangan bayangkan yang macam-macam. Tiba-tiba saja keberanian itu muncul. Ya, tiba-tiba saja. Ingat berapa waktu yang saya butuhkan untuk memutuskan menikahinya? Kurang dari satu menit. Begitu dia memberi tahu keadaannya saat itulah saya memutuskan untuk menikahinya jika memang betul keadaanya seperti itu.
Apakah tidak ada ketakutan? Saya mau jujur, sebenarnya saya juga mengalami ketakutan. Keadaan yang terburuk terus terbayang. Masa depan saya pun tampak buram. Bagaimana saya harus menghidupi dia dengan gaji saya? Pertanyaan-pertanyaan lain pun mulai timbul. Benarkah keputusan saya? Saya bukan Tuhan yang selalu yakin akan apa yang harus dilakukan. Hanya saja saat ini saya mengatakan itu keputusan terbaik. Saya tidak pernah menyesalinya. Seandainya waktu berulang, saya tetap akan memutuskan untuk menikahinya.
Bagi saya, keragu-raguan saya itu wajar. Beribu-ribu tahun yang lalu, Abraham mengalami pergumulan yang mungkin tidak jauh berbeda dengan pergumulan saya. Abraham memiliki keberanian untuk pergi meninggalkan negerinya. Bukan hal mudah, dia harus meninggalkan saudara-saudaranya. Dia juga kehilangan tanahnya, relasi kerja dan banyak hal-hal yang harus ditinggalkannya. Bayangkan saja seandainya Anda saat ini diminta untuk meinggalkan rumah Anda dan pergi ke suatu tempat yang nanti akan Tuhan tunjukkan. Seandainya Anda boleh membawa apa saja yang ingin Anda bawa, kira-kira berapa banyak yang akan Anda tinggal? Pasti banyak. Kira-kira Anda kehilangan apa saja? Tempat memancing mungkin, atau tempat main? Tentu hal seperti itu tidak bisa dibawa.
Abraham memerlukan keberanian untuk menanggapi panggilan itu. Bukan berarti Abraham tidak memiliki keraguan. Saya melihat, Abraham pernah ragu terhadapa Allah. Buktinya dia justru ke Mesir, tinggal disana sebagai orang asing. Lebih parahnya, Abraham mengakui Sarai sebagai adiknya supaya nyawanya tidak melayang. Itu bukti keragu-raguan Abraham setelah berani melangkah. Hanya saja adakah keberanian dalam diri Abraham untuk melangkah dari keragu-raguan? Inilah yang sangat penting. Kita bisa melihat akhirnya Abraham memiliki keberanian untuk melangkah dari keragu-raguan. Buktinya? Dia mau mempersembahkan Ishak anaknya. Buktinya lagi? Dia menyandang gelar “Bapa orang beriman.”
Ada kisah lain tentang keberanian. Bangsa Israel, sangat berani sehingga mereka meninggalkan Mesir. Ya, mereka pergi ke negeri yang berlimpah susu dan madu dibawah kepemimpinan Musa. Lama mereka berjalan, tetapi janji itu seperti hanya sekedar janji. Beban berat harus mereka pikul. Akhirnya mereka teringat akan keadaan ketika di Mesir. Mereka merindukan pekerjaan budak yang dulu mereka jalani. Mereka memilih untuk kembali ke Mesir daripada menuju negeri yang dijanjikan. Tahu apa yang terjadi pada diri mereka? Ya, mereka binasa. Tuhan marah dan membinasakan mereka.
Lalu apa bedanya keraguan Abraham yang tidak menyebabkan kebinasaan bagi Abraham dengan keraguan bangsa Israel? Yesus pun sempat ragu ketika di taman Getsemane. Lihatlah permintaanNya,”Jikalau mungkin biarlah cawan ini berlalu daripadaKu.” Bahkan Dia mengatakan doa tersebut sampai tiga kali. Tetapi keraguan itu harus berakhir dengan perkataanNya berikutnya,”tetapi jangalah seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Sebuah keraguan yang berakhir dengan penyerahan diri.
Keragu-raguan itu wajar, sangat wajar. Tapi harus hati-hati, keragu-raguan bisa membuat kita binasa. Jadi berlakulah seperti Yesus, di dalam keragu-raguan tetap ada penyerahan diri. Karena penyerahan diri itulah akhirnya Yesus mempunyai keberanian untuk melangkah. Dia disalib untuk kita.

Tuesday, May 23, 2006

Gereja dan panggilannya?

Di tulisan sebelumnya saya menyebutkan salah satu ciri gereja yang sakit adalah gereja tidak mengetahui panggilannya. Pada tulisan ini saya ingin membantu bagi gereja yang masih bingung mengenai panggilan gerejanya. Sebenarnya mengetahu panggilan sebuah gereja hampir sama dengan mengetahui panggilan diri sendiri.
Masa lalu
Bagaimanapun juga panggilan tidak dapat dipisahkan dengan masa lalu. Tuhan telah mempersiapkan sebuah gereja dan kita dapat melihat tujuan tersebut di masa lalu. Bagaimana gereja tersebut sampai terlahir di dalam dunia? Biasanya gereja ada karena kebutuhan tertentu. Misalnya, sebuah suku membutuhkan tempat untuk bersekutu bersama. Atau seorang mengalami kerinduan untuk melayani suatu kelompok. Kembalilah ke masa lalu untuk melihat mengapa gereja tersebut sampai ada di dunia. Saya yakin Tuhan turut bekerja ketika gereja tersebut lahir.
Potensi yangada di dalamnya
Memang potensi jemaat yang berkembang tidak jauh berbeda dengan potensi para pemimpin gereja. Ini disebabkan kecenderungan seseorang mengikuti orang yang memiliki potensi yang sama dengan diirnya dan kecenderungan seorang pemimpin untuk menegmbangkan orang lain sesuai dengan potensi dirinya. Potensi merupakan sesuatu yang diberikan oleh Tuhan supaya ornag tersebut bisa melayaniNya dan umatNya. Karena itu panggilan gereja tidak akan jauh dari potensi yangada di gereja tersebut. Hanya saja perlu kemampuan gereja untuk mengembangkan potensi orang lain berdasarkan potensi mereka sendiri bukan berdasarkan keinginan pemimpin gereja.
Kesempatan yangada bagi gereja tersebut
Tidak semua kesempatan Tuhan bukakan ke setiap orang. Ada gereja yang memiliki kesempatan untuk melayani orang miskin tetapi dia tidak memliki kesempatan melayani orang kaya. Saya percaya, Tuhanlah yang membukakan kesempatan tersebut. Karena itu penting buat gereja untuk melihat kesempatan yang Tuhan berikan dan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk keperluan Allah. Memang baik kita mencari kesempatan untuk melayani sesama kita tetapi lebih baik lagi kalau kita melakukannya setelah kita menggunakan kesempatan yang ada untuk melayani ornag yang di sekitar kita.
Sebuah rema
Tuhan sering mengulang-ulang sesuatu kepada seseorang itulah yang disebut rema. Saya melihat beberapa gereja memiliki ayat emas, ayat yang menjadi dasar gereja melakukan segala hal. Itulah rema. Saya yakin itu dari Tuhan dan rema sangat spesifik dan unik. Spesifik artinya Tuhan memberitahukan sesuatu yang jelas dan hanya berhubungan dengan beberapa hal (tidak umum). Unik artinya bisa jadi hanya dirinyalah yang merasakan rema tersebut.
Kebutuhan yang ada
Setiap orang memiliki kebutuhan tetapi perlu lebih fokus untuk kebutuhan yang menjadi beban hati kita. Tuhan memakai hati kita untuk berbicara sesuatu dan ketika kita melihat sebuah kebutuhan, setiap orang akan bereaksi berbeda-beda. Ada yang bereaksi jika melihat kebutuhan fisik tetapi ada yang bereaksi jika melihat kebutuhan spiritual.
Mimpi dan visi
Sama ketika Tuhan memakai mimpi Firaun untuk keperluanNya, Tuhan juga bisa memakai mimpi Anda untuk kepentinganNya. Mimpi bukan hanya ketika kita tidur, tetapi mimpi adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi dalam hidup kita. Mimpi ini bisa dijadikan visi yang berarti gambaran tentnag masa depan yang ingin terjadi dalam hidup kita.
Pertimbangkanlah hal-hal tersebut di atas maka Anda akan memperoleh panggilan hidup Anda. Jangan lupa untuk menyertakan Tuhan dalam setiap proses yang Anda jalani.

Atas Nama Kebenaran?

Ketika seorang pindah gereja ke gereja lain, atas nama kebenaran, kedua pihak gembala sidang akan mengatakan hal yang berbeda. Gembala yang kehilangan orang tersebut akan mengatakan,”Aku sangat mengasihinya. Aku sangat prihatin karena dia pindah gereja. Aku sangat kuatir akan kehidupannya di gereja tersebut.” Bagaimana kira-kira komentar orang yang menerimanya?”Aku bersyukur karena akhirnya dia menyadari gereja mana yang terbaik.”
Sikap menganggap dirinya paling benar membuat gereja manjadi cacat. Bukankah Paulus mengajarkan tentang tubuh Kritus? Di zaman itu terjadi kekacauan atara gereja yang satu dengan yang lain. Mungkin kalau itu terjadi di zaman ini, mereka akan berbicara tentang baptisan dan Roh Kudus (merupakan tema yang paling ramai dibahas karena perbedaan doktrin). Lalu topik berikutnya adalah berbahasa roh, masuklah topic-topik lainnya. Akhirnya, satu bagian dari tubuh Kristus tidak mengakui bahwa dia anggota tubuh. Yang satu lagi tidak mau bekerja sama dengan anggota tubuh lainnya. Mata tidak mau terhubung dengan otak untuk melihat. Tangan bekerja sendiri. Ketika terasa haus, mulut enggan untuk minum. Alasannya adalah KEBENARAN. Karena hanya SAYALAH YANG BENAR. Doktrin-doktrin di gereja diarahkan ke sana. “Kalau baptisan tidak dilakukan persis seperti yang kita lakukan, maka dia belum menjadi tubuh Kristus.” Hal ini ditandai baptis ulang untuk anggota baru yang berasal dari gereja tertentu.
Benarkah seperti itu? Benarkah Allah menginginkan itu terjadi? Sekitar dua ribu tahun yang lalu, terjadi kekacauan karena kasus baptis. Yohanes pembaptis telah membaptis banyak orang dan Yesus (lebih tepatnya murid-muridNya) juga membaptis di sekitar tempat itu juga. Tetapi hebatnya, ketika murid Yohanes mengadukan hal ini, Yohanes tidak marah. Dia tidak menjelek-jelekan Yesus dan menganggap baptisan murid Yesus tidak sah. Yohanes justru merendahkan dirinya dan mempersilahkan Yesus membaptis. Demikian pula Yesus, bukankah dia tidak menjelek-jelekan Yohanes dan mengatakan bahwa baptisan Yohanes hanya dengan air? Inilah contoh yang harus kita tiru tentang kesatuan tubuh Kristus. Keduanya melakukan pekerjaan yang tidak jauh berbeda tetapi keduanya saling menghormati dan bekerja sama.
Lalu mengapa saat ini tubuh Kristus demikian sulit untuk bekerja sama? Mengapa gereja-gereja sangat kompak membuat cacat dirinya sendiri dengan tidak mau bekerja sama dengan yang lain? Maafkan saya jika saya sangat tidak setuju jika jawabannya karena KEBENARAN. Bukan berarti saya setuju dengan semua doktrin kekristenan yang ada. Saya punya dua katagori apakah saya bisa bekerja sama dengan gereja tersebut atau tidak: yang pertama apakah dalam doktrinnya percaya kepada Allah Bapa sebagai pencipta, Yesus Kristus sebagai penyelamat dan Roh Kudus sebagai pembimbing kita kepada ketigaNya? Yang kedua, apakah doktrin gereja tersebut percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan dan menjadikannya dasar atas setiap keputusan gereja?
Maafkan saya juga kalau saya mengatakan sebenarnya penyebab cacatnya tubuh Kristus adalah EGO. Sikap-sikap gereja yang saya lihat disebabkan karena ego:
Gereja ingin gerejanya sendiri yang besar dan berharap gereja lain semakin kecil. Terbukti ada gereja yang lebih suka mengambil jemaat gereja lain daripada mencari dari kalangan domba yang terhilang.
Gereja ingin nama gerejanya yang diagungkan daripada nama Kristus. Terlihat dia lebih sering mengajak orang menjadi pengikut gerejanya dibandingkan pengikut Kristus.
Gereja menyerang gereja lain dengan dalih apapun (semua bisa dijadikan dalih) yang sebenarnya itu karena kebencian bukan karena cinta kasih. Kebencian tersebut bisa timbul karena ego gereja tersebut.
Gereja tidak mau bekerja sama dengan gereja lain sebenarnya disebabkan ego.
Sikap-sikap gereja yang seperti itu membuat tubuh Kristus menjadi cacat. Akhirnya gereja tidak mampu mendengar dengan baik, melihat dengan seksama dan bersikap dengan bijaksana. Kalau memang gereja seperti itu, bagaimana mungkin masyarakat akan memakai produknya? Jika memang gereja sendiri sudah cacat, bukankah jemaatnya akan mengalami kecacatan juga?
Bagaimana supaya tidak cacat? Sangat mudah. Gereja harus saling merendahkan diri, menyadari bahwa dirinya menjadi bagian dari tubuh Kristus dan melakukan apa yang menjadi bagiannya. Saya yakin jika tubuh tidak cacat maka masyarakat akan memakai tubuh tersebut di dalam setiap aspek kehidupan. Bisa jadi suatu saat ada yang menjadi presiden. Bukankah mungkin?

Gereja yang sakit

Kecacatan berasal dari keadaan gereja yang sakit. Dengan tetap mengingat bahwa gereja merupakan anggota tubuh Kristus, saya akan mencoba untuk menuliskan apa yang saya ketahui tentang gereja yang sakit.
Terlebih dahulu kita perlu melihat, gereja seperti apakah yang bisa dianggap sakit? Sekali lagi saya tidak akan berbicara tentnag doktrin gereja karena saya bukan ahlinya. Selain itu menurut saya tidak akan ada yang mengetahui doktrin secara sempurna karena keterbatasan manusia dalam memahami Allah yang tiada terbatas. Allah bisa berbicara hal yang berbeda kepada yang satu dan berbeda juga kepada yang lain. Bukan karena Allah ingin mengadu domba tetapi lebih karena fungsi gereja yang satu dengan yang lain memang berbeda. Sama seperti fungsi setiap tubuh manusia yang berbeda dan Tuhan menciptakan keunikan sesuai dengan fungsinya.
Gereja yang sakit tidak bisa dilihat dari bentuknya tetapi lebih kepada fungsinya. Maafkan saya kalau saya tidak setuju gereja yang sakit dilihat dari aktivitas yang ada di gereja tersebut. Memang beberapa orang melihat bahwa gereja yang sedikit aktivitas berarti gereja tersebut sedang sakit. Sehingga gereja yang memiliki aktifitas yang sangat banyak. Mulai dari kebaktian hari Senin, doa hari selasa, pemahaman Alkitab hari Rabu dan seterusnya. Semua jemaat diminta mengikutinya.
Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan pengertian tersendiri tentang fungsi sebuah gereja seperti sebuah sekolah. Ada TK yang kalau kita lihat di dalamnya banyak sekali aktifitas. Lihatlah anak-anak disuruh menirukan gerakan gurunya, menyanyi, bermain dan bermacam aktivitas lainnya. Coba saja di TK kita tidak banyak melakukan gerakan, apakah mereka dapat mengikuti pelajaran yang diberikan oleh seorang guru? Saya kira tidak. Demikian pula ketika di Perguruan tinggi, kita sangat sedikit aktivitas yang diberikan oleh dosen. Ketika saya mengerjakan penelitian saya bahkan saya sangat jarang ketemu dengan dosen saya. Apakah saya tidak melakukan sesuatu? Apakah dosen saya salah? Tentu tidak. Saya lebih banyak membaca buku dan melakukan eksperimen daripada membahas dengan dosen. Pekerjaan dua minggu hanya dibahas dalam waktu kurang dari satu jam. Tetapi salah juga jika saya mengibaratkan gereja seperti sekolah karena berarti saya menganggap ada gereja dengan kelas tinggi ada gereja yang masih kelas bawah. Bukan itu maksud saya tetapi lebih memberikan pengertian bahwa gereja tidak bisa dinilai sehat atau tidak dari aktivitas yang ada.
Sehat atau tidak juga tidak dapat didasarkan oleh aturan yang ada. Saya pernah mendengar ada gereja yang memiliki aturan sangat ketat. Bahkan jika ada anggota jemaat yang akan berpacaran, maka ornag tersebut harus minta ijin kepada orang tertentu di dalam gereja. Ada juga gereja yang seakan-akan tidak perduli atas hidup jemaatnya. Saya katakan seakan-akan karena gereja akan ikut dalam urusan pribadi seseorang jika orang tersebut sudah jatuh ke dalam dosa atau memang diminta untuk membantu.
Sebaiknya kita sangat berhati-hati dalam menilai sebuah gereja itu sehat atau sakit. Hati-hati dengan katagori yang manusia buat karena manusia hanya melihat apa yang kelihatan tetapi Tuhan melihat hati. Sesuatu yang kelihatan dasyat dan gereja yang luar biasa belum tentu gereja tersebut sehat. Kita telah melihat gereja yang luar biasa jatuh karena ternyata dipimpin oleh seorang gembala siding yang telah jatuh.
Pada kesempatan ini, saya ingin memberikan gambaran tentnag gereja yang sakit. Gambaran ini tidak dibuat untuk menilai gereja lain dan akhirnya menghakimi mereka. Saya tidak ingin itu terjadi tetapi marilah kita maisng-masing mengintrospeksi diri kita dan berubah sesuai dengan kehendak Allah. Jadi yang bisa bilang gereja tersebut sakit atau tidak adalah Tuhan dan gereja itu sendiri.
Gereja yang sakit adalah
Gereja yang tidak mengetahui akan panggilannya. Dengan kata lain, bagian tubuh yang tidak mengetahui fungsi dari tubuhnya. Tuhan mengijinkan adanya perbedaan gereja sama dengan Tuhan mengijinkan adanya perbedaan tubuh.
Gereja yang tidak menyadari bahwa dia bagian dari tubuh Kristus. Akhirnya gereja tersebut tidak mau bekerja sama sebagai sesame anggota tubuh Kristus bahkan justru menyerang gereja lain.
Gereja yang mengutamakan hal-hal kedagingan. Yang menjadi pembicaraan lebih ke keuntungan pribadi. Akan terlihat dari sedikitnya orang yang merelakan diri untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan tanpa dibayar.
Gereja yang kehilangan kasih. Setiap gereja yang menjadi besar harus hati-hati jangan sampai mereka kehilangan kasih. Perlakuan kepada staf gereja memperlihatkan adakah kasih di dalam gereja tersebut atau tidak.
Apa yang terjadi dengan gereja yang seperti itu? Sebenarnya sama ketika Anda bertanya apa yang terjadi jika ada bagian tubuh yang sakit? Tentu yang pertama adalah mengandalkan bagian tubuhnya yang lain untuk mengobati. Misalnya mengandalkan sel darah putih dalam memperbaiki sel-sel yang rusak. Atau bantuan tangan untuk merawat luka tersebut. Seandainya masih tetap sakit maka akan menggunakan orang disekitar kita. Itu bisa bearti akan ada kritikan di sekitar gereja yang memberitahukan kalau gereja tersebut sakit. Atau ada bantuan dari pihak lain untuk menyembuhkan. Masih tidak sembuh juga? Mungkin perlu amputasi. Bisa juga Tuhan meminta pihak lain untuk menyerang gereja, melakukan amputasi.
Setelah diamputasi, gereja memang tetap akan bernama gereja sama seperti tangan tetap bernama tangan. Hanya saja pelan-pelan dia akan mati karena sudah tidak terhubung dengan bagian tubuh yang lain. Akankah Anda membiarkan gereja Anda mengalaminya? Apapun posisi Anda, gembala sidang, jemaat, atau tua-tua, Andalah yang menentukan masa depan gereja. Berubahlah.

Cacat yang lain

Dalam tulisan ini saya lebih menekankan mengapa kita tidak bisa menjalankan fungsinya? Salah satu faktornya adalah karena kita menganggap investasi sebagai biaya.
Setiap bulan saya mengeluarkan sejumlah uang tertentu untuk keperluan pengembangan diri. Saya membeli buku atau majalah atau hal lainnya supaya diri saya berkembang. Saya tidak berbicara tentang karir saya tetapi kemampuan diri saya dalam menjadi berkat bagi orang lain. Bisa jadi saya memasukan itu sebagai biaya. Kalau biaya maka kecenderungan kita adalah menguranginya bahkan menghilangkannya jika terpaksa. Berbeda dengan investasi. Kita cenderung untuk memperbesar jika memang kemampuan kita meningkat.
Banyak gereja yang menganggap gaji staf gereja sebagai biaya. Serendah mungkin mereka memberikannya dengan dalih pelayanan. Tetapi apa akibatnya? Gereja akan mendapatkan kemampuan yanga rendah, orang-orang yang tidak inovatif karena mereka tidak mempunyai biaya untuk mengembangkan diri. Akibatnya lebih jauh? Jemaat yang dihasilkanpun akan menjadi jemaat yang biasa-biasa saja. Karena mendapatkan pelayanan yang biasa-biasa maka jemaat memberikan persembahan dengan jumlah yang biasa-biasa juga. Akibat lebih jauh lagi? Maka bangsa kita pun akan memperlakukan dengan biasa-biasa saja karena mereka tidak merasakan dampak yang luar biasa.
Ternyata itu terjadi dengan sistem pengkaderan yang terjadi di gereja. Mereka menggunakan orang yang biasa-biasa (karena murah dan pasti tidak banyak maunya). Beberapa orang diberikan beasiswa tetapi dibatasi; beasiswa dilakukan jika menguntungkan gereja. Beasiswa khusus diberikan kepada mereka yang mau masuk ke sekolah theologia yang sesuai dengan doktrin gereja tersebut. Memang gereja telah melihat regenerasi sangat penting tetapi hanya melihat untuk kepentingan gerejanya. Regenerasi untuk gerejanya bukan untuk bangsa ini.
Lebih parah lagi gereja telah mengkotak-kotakan antara hal yang rohani dan tidak rohani. Pemahaman Alkitab itu rohani tetapi diskusi tentang politik-misalnya, merupakan hal yang tidak rohani. Doa adalah sangat penting tetapi mengamati keadaan bangsa menjadi tabu. Sikap orang Kristen sendiri yang membuat bangsa tidak mengenal orang Kristen. Apalagi kesibukan orang Kristen mempermegah tempat ibadah mereka tanpa memperhatikan lingkungan mereka. Inilah kecacatan-kecacatan lain yang terjadi di dalam orang Kristen.
Semakin saya memperpanjang daftar ini, sebenarnya saya sedang membuka aib saya sendiri. Bagaimana tidak? Bukankah saya juga orang Kristen yang merupakan bagian dari gereja?
Saya sangat berterima kasih atas pelayanan para navigator. Bayangkan saja, mereka mengikutkan saya dalam pelatihan internal dan saya tidak mengeluarkan uang seperser pun. Setelah itu memang saya diminta untuk menjadi team mereka tetapi saya menolak. Beberapa bulan setelah itu, saya diikutkan ke dalam pelatihan yang lain. Lagi-lagi gratis. Sampai saat ini, sepertinya para navigator belum menikmati hasil investasi mereka. Tapi jika Anda bertanya ke mereka, mereka tetap mau melakukan lagi. Mereka tetap investasi walaupun bukan mereka yang menikmati.
Bagaimana dengan gereja Anda? Sebagian cacat disebabkan gereja tidak mau berinvestasi tetapi menganggap semua pengeluaran adalah biaya. Kalau memang tidak mau investasi bagaimana mungkin orang di sekitar kita termasuk bangsa kita mau berinvestasi kepada gereja? Mungkin juga mereka menganggap gereja sebagai biaya yang harus dikurangi kalau bisa dihilangkan.

Apa yang Tuhan lakukan untuk gereja yang sakit?

Kecacatan berasal dari keadaan gereja yang sakit. Denagn tetap mengingat bahwa gereja merupakan anggota tubuh Kristus, saya akan mencoba untuk menuliskan apa yangs aya ketahui tentang gereja yang sakit.
Terlebih dahulu kita perlu melihat, gereja seperti apakah yang bisa dianggap sakit? Sekali lagi saya tidak akan berbicara tentnag doktrin gereja karena saya bukan ahlinya. Dan saya merasa tidak akan ada yang menegtahui doktrin secara sempurna karena keterbatasan manusia dalam memahami Allah yang tiada terbatas. Menurut saya, Allah bisa berbicara hal yang berbeda kepada yang satu dan berbeda juga kepada yang lain. Bukan karena Allah ingin mengadu domba tetapi lebih karena fungsi gereja yang satu dengan yang lain memang berbeda. Sama seperti fungsi setiap tubuh manusia yang berbeda dan Tuhan menciptakan keunikan sesuai dengan fungsinya.
Gereja yang sakit tidak bisa dilihat dari bentuknya tetapi lebih kepada fungsinya. Maafkan saya kalau saya tidak setuju gereja yang sakit dilihat dari aktivitas yang ada di gereja tersebut. Memang beberapa orang melihat bahwa gereja yang sedikit aktivitas berarti gereja tersebut sedang sakit. Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan pengertian tersendiri tentang fungsi sebuah gereja seperti sebuah sekolah. Ada TK yang kalau kita lihat di dalamnya banyak sekali aktifitas. Lihatlah anak-anak disuruh menirukan gerakan gurunya, menyanyi, bermain dan bermacam aktivitas lainnya. Coba saja di TK kita tidak banyak melakukan gerakan, apakah mereka dapat mengikuti pelajaran yang diberikan oleh seorang guru? Saya kira tidak. Demikian pula ketika di Perguruan tinggi, kita sangat sedikit aktivitas yang diberikan oleh dosen. Ketika saya mengerjakan penelitian saya bahkan saya sangat jarang ketemu dengan dosen saya. Apakah saya tidak melakukan sesuatu? Apakah dosen saya salah? Tentu tidak. Saya lebih banyak membaca buku dan melakukan eksperimen daripada membahas dengan dosen. Pekerjaan dua minggu hanya dibahas dalam waktu kurang dari satu jam. Tetapi salah juga jika saya mengibaratkan gereja seperti sekolah karena berarti saya menganggap ada gereja dengan kelas tinggi ada gereja yang masih kelas bawah. Bukan itu maksud saya tetapi lebih memberikan pengertian bahwa gereja tidak bisa dinilai sehat atau tidak dari aktivitas yang ada.
Sehat atau tidak juga tidak dapat didasarkan oleh aturan yang ada. Saya pernah mendengar ada gereja yang memiliki aturan sangat ketat. Bahkan jika ada anggota jemaat yang akan berpacaran, maka ornag tersebut harus minta ijin kepada orang tertentu di dalam gereja. Ada juga gereja yang seakan-akan tidak perduli atas hidup jemaatnya. Saya aktakan seakan-akan karena gereja akan ikut dalam urusan pribadi seseorang jika orang tersebut sudah jatuh ke dalam dosa atau memang diminta untuk membantu.
Sebaiknya kita sangat berhati-hati dalam menilai sebuah gereja itu sehat atau sakit. Hati-hati dengan katagori yang manusia buat karena manusia hanya melihat apa yang kelihatan tetapi Tuhan melihat hati. Sesuatu yang kelihatan dasyat dan gereja yang luar biasa belum tentu gereja tersebut sehat. Kita telah melihat gereja yang luar biasa jatuh karena ternyata dipimpin oleh seorang gembala siding yang telah jatuh.
Pada kesempatan ini, saya ingin memberikan gambaran tentnag gereja yang sakit. Gambaran ini tidak dibuat untuk menilai gereja lain dan akhirnya menghakimi mereka. Saya tidak ingin itu terjadi tetapi marilah kita maisng-masing mengintrospeksi diri kita dan berubah sesuai dengan kehendak Allah. Jadi yang bisa bilang gereja tersebut sakit atau tidak adalah Tuhan dan gereja itu sendiri.
Gereja yang sakit adalah
Gereja yang tidak mengetahui akan panggilannya. Dengan kata lain, bagian tubuh yang tidak mengetahui fungsi dari tubuhnya. Tuhan mengijinkan adanya perbedaan gereja sama dengan Tuhan mengijinkan adanya perbedaan tubuh.
Gereja yang tidak menyadari bahwa dia bagian dari tubuh Kristus. Akhirnya gereja tersebut tidak mau bekerja sama sebagai sesame anggota tubuh Kristus bahkan justru menyerang gereja lain.
Gereja yang mengutamakan hal-hal kedagingan. Yang menjadi pembicaraan lebih ke keuntungan pribadi. Akan terlihat dari sedikitnya orang yang merelakan diri untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan tanpa dibayar.
Gereja yang kehilangan kasih. Setiap gereja yang menjadi besar harus hati-hati jangan sampai mereka kehilangan kasih. Perlakukan kepada staf gereja memperlihatkan adakah kasih di dalam gereja tersebut atau tidak.
Apa yang terjadi dengan gereja yang seperti itu? Sebenarnya sama ketika Anda bertanya apa yang terjadi jika ada bagian tubuh yang sakit? Tentu yang pertama adalah mengandalkan bagian tubuhnya yang lain untuk mengobati. Misalnya mengandalkan sel darah putih dalam memperbaiki sel-sel yang rusak. Atau bantuan tangan untuk merawat luka tersebut. Seandainya masih tetap sakit maka akan menggunakan orang disekitar kita. Itu bisa bearti akan ada kritikan di sekitar gereja yang memberitahukan kalau gereja tersebut sakit. Atau ada bantuan dari pihak lain untuk menyembuhkan. Masih tidak sembuh juga? Mungkin perlu amputasi. Bisa juga Tuhan meminta pihak lain untuk menyerang gereja, melakukan amputasi.
Setelah diamputasi, gereja memang tetap akan bernama gereja sama seperti tangan tetap bernama tangan. Hanya saja pelan-pelan dia akan mati karena sudah tidak terhubung dengan bagian tubuh yang lain. Akankah Anda membiarkan gereja Anda mengalaminya? Berubahlah.

Wednesday, March 01, 2006

Resensi Buku Courageous Leadership

Gereja merupakan bagian penting dari dunia. Tidak ada yang dapat menyamai peran gereja seandainya gereja dapat berfungsi dengan benar. Persamaan gereja-gereja yang bertumbuh adalah semua dipimpin oleh orang-orang yang memiliki dan menyebarkan karunia spiritual berupa kepemimpinan. Orang-orang dengan karunia kepemimpinan secara unik diperlengkapi untuk menghasilkan strategi dan struktur-struktur yang menyediakan kesempatan-kesempatan bagi orang lain untuk memanfaatkan karunia-karunia mereka dengan lebih efektif. Para pemimpin melihat gambaran keseluruhannya dan mengerti bagaimana caranya menolong orang lain menemukan tempat mereka melayani di dalam gambar tersebut. Mereka menyadari dan mengembangkan karunia kepemimpinan mereka dan tunduk kepada Allah dan memanfaatkan karunia mereka seefektif mungkin.
Seorang pemimpin harus sepenuhnya berserah kepada Tuhan. Mereka harus memberikan visi-visi yang penuh kuasa, alkitabiah, menghormati Tuhan. Mereka harus membangun tim yang efektif, penuh kasih, memiliki fokus yang jelas. Senjata seorang pemimpin yang paling ampuh adalah visi. Visi adalah inti dari kepemimpinan. Visi adalah gambaran masa depan yang menimbulkan kegairahan. Awalnya seorang pemimpin melihat visi lalu menerima tanggung jawab. Menerima visi dari Tuhan adalah perkara spiritual yang mendalam dan juga perkara praktis yang mendalam. Hal itu melibatkan pekerjaan yang diam-diam secara batiniah untuk menjadikan hati Anda siap dan juga pekerjaan yang enerjik, lahiriah, penuh penjelajahan dan eksperimen. Visi tersebut juga harus disampaikannya kepada orang lain. Penyampaian visi ini dilakukan baik satu lawan satu dan dengan cara go public. Hal penting yang perlu diingat dalam penyampaian visi adalah siapa (orang yang paling tepat menyampaikan visi) dan kapan (waktu yang paling tepat dalam penyampaian visi tersebut).
Visi sangat penting karena visi meningkatkan energi dan menggerakkan orang-orang untuk bertindak, meningkatkan rasa memiliki, memberikan fokus dan memperlancar pergantian kepemimpinan. Tetapi diperlukan pemimpin yang mengubah visi menjadi tindakan.
Pada kenyataannya orang-orang memerlukan lebih dari visi. Mereka membutuhkan rencana, penjelasan secara bertahap mengenai bagaimana caranya bergerak dari visi menuju realitas. Yang pertama kali dilakukan adalah memeriksa ulang hal yang utama. Setelah itu dapat ditentukan titik berat di dalam visi yang luas tersebut. Lalu dibuatlah tujuan-tujuan spesifik untuk mewujudkan visi tersebut. Tentu saja tujuan tersebut harus sesuai dengan titik berat yang sudah ditentukan. Lalu carilah “juara-juara” yang bertanggungjawab atas setiap tujuan tersebut dan memimpin yang lain untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Tetapi harus tetap diingat akan keselarasan setiap bidang ataupun departemen yang ada. Kecenderungan yang terjadi mereka melakukan yang menjadi keinganan hati mereka bukan lagi visi bersama. Diperlukan ketegasan untuk membentuk keselarasan.
Gereja harus diingat akan fakta bahwa karunia kepemimpinan adalah akrunia yang memberi tenaga, mengarahkan, dan menguatkan semua karunia lain. Semua pemimpin perlu berjuang terus-menerus untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan mereka ke tingkat berikutnya, tidak peduli betapapun sulitnya.
Pernyataan Tuhan kepada Bill Hybels : “Engkau memimpin serajin mungkin. Engkau memaksimalkan setiap potensi kepemimpinan yang Aku berikan kepadamu. Baca. Pelajari. Carilah mentor. Demi kepentingan gereja dan dunia, kembangkan karunia ini sampai batas akhir potensinya di dalam hidupmu.”
Dalam mewujudkan visi diperlukan team untuk melakukannya. Setiap orang yang ingin berhasil harus mempunyai tim impian. Langkah yang diperlukan untuk membangun tim impian adalah mendefinisikan tujuan tim dengan sangat spesifik. Tujuan akan membuat setiap anggota tim mengetahui apa yang harus dia lakukan. Langkah berikutnya untuk membangun tim adalah menetapkan kriteria yang jelas untuk memilih anggota-anggota tim yang spesifik. Seleksi yang Bill Hybels lakukan didasarkan pada tiga C:
Character. Berbicara tentang perjalanan hidup seseorang bersama Yesus Kristus, komitmen terhadap disiplin spiritual, kejujuran, kesediaan untuk diajar, kerendahan hati, dapat diandalkan, etos kerja yang sehat, dan kesediaan untuk dihimbau.
Competence. Para staf Bill Hybels medrupakan orang terbaik di bidangnya masing-masing. Mereka memiliki pendidikan yang sesuai dengan jenis pekerjaannya dan lulusan dari universitas terbaik. Tetapi biasanya mereka yang terbaik tidak kelihatan, tidak bahagia, ataupun menganggur. Tetapkan standar yang tinggi jika menyangkut masalah kompetensi.
Chemistry. Jangan pernah memasukan ke dalam tim seseorang yang tidak menimbulkan efek emosional yang positif terhadap staf lain saat dia melangkah ke ruangannya.
Setiap tim memerlukan pemimpin yang kualitasnya top yang akan:
Menjaga agar tim tetap terfokus pada misi
Memastikan bahwa orang yang tepat dengan karunia dan bakat yang tepat menempati posisi yang tepat.
Memaksimalkan kontribusi setiap anggota
Dengan adil mendistribusikan beban sehingga semangat tetap tinggi dan pemogokan tetap rendah
Menjamin komunikasi sehingga semua anggota kelompok tetap berada dalam lingkaran informasi
Menilai dan meningkatkan tingkat komunitas di dalam tim.
Kebenaran mendasar yang harus dipahami setiap epmimpin agar dapat menjalankan peran sebagai ketua pengumpulan dana:
Tuhan adalah penyedia sumber daya yang utama. Tidak perlu menyandarkan diri pada donor terbesar tetapi selalulah ingat bahwa penyedia utama dari sumber daya yang kita perlukan adalah Tuhan yang ingin melihat gerejaNya dibangun lebih dari kita.
Dalam situasi yang tepat, orang-orang sangat suka memberi. Dalam pengumpulan dana harus dimulai dengan mengasumsikan bahwa orang-orang cenderung untuk memberi sehingga pelakukanlah mereka dengan penuh hormat.
Mendanai pelayanan membuktikan karakter seorang pemimpin seperti yang tidak dapat dilakukan tantangan lain. Tekanan yang dirasakan adalah sesuatu yang ingin Allah pakai untuk menggerakkan pemimpin dan pengikutnya ke dalam tingkat komitmen dan kepercayaan yang lebih tinggi.
Tidak ada sesuatu apapun yang menguji keberanian para pemimpin gereja dan anggota lebih dari pada tantangan dalam bidang sumber daya. Beberapa prinsip sumberdaya yang diajarkan di Willow Creek:
Prinsip pendidikan. Di willow Creek diajarkan tentang mencari uang adalah hal baik para pengikut Kristus dipanggil untuk hidup sesuai kemampuan mereka, memberikan sekurang-kurangnya sepuluh persen pendapatan mereka bagi pekerjaan Tuhan di gereja setempat, dan memberikan sumbangan kepada kaum miskin saat Roh Kudus mendorong mereka untuk itu.
Prinsip informasi. Willow Creek memilih untuk membeberkan segala sesuatu di hadapan umat termasuk keuangan. Jemaat akan mengetahui keadaan gereja dan dapat memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan mereka.
Prinsip KISS. Prinsip KISS berarti Keep It Simple, Stupid yaitu membuat segalanya menjadi sederhana termasuk dalam pelaporan keuangan.
Prinsip disiplin strategis. Pendekatan yang dilakukan adalah menemui orang-orang dengan sumber daya melimpah dan menantang mereka untuk turut berpartisipasi. Jika mereka jauh dari Tuhan maka Bill akan berusaha menuntun mereka kedalam relasi bersama Yesus.
Prinsip Visi. Orang-orang tidak memberi kepada organisasi atau orang lain tetapi memberi pada visi. Karena itu lukiskanlah gambaran kepada orang-orang dan membantu mereka membayangkan kebaikan yang akan dihasilkan oleh usaha bersama mereka, maka orang-orang bebas menyumbangkan sumber daya mereka dengan gembira.
Beberapa pedoman untuk merekrut staf gereja:
Prinsip tukar-menukar yang adil. Para anggota staf harus dibayar dengan adil.
Prinsip jangan memberangus mulut lembu yaitu berikan kepada para anggota staf peralatan yang mereka butuhkan untuk mengerjakan apa yang Anda suruh.
Prinsip penghargaan ganda yaitu menghargai pemain-pemain inti, menemukan apa yang akan menggugah hati mereka lalu hadiahkan itu kepada mereka.
Menggaji pendeta dengan prinsip kebijaksanaan yaitu menantang setiap orang yang terlibat dalam diskusi mengenai gaji dengan memperhitungkan semua variabel yang berhubungan dengan gaji seorang pendeta.
Pengembangan kepemimpinan tidak bisa dilakukan tanpa sebuah visi tetapi dibutuhkan pula rancangan strategi untuk mengubah visi itu menjadi kenyataan. Rencana pengembangan kepemimpinan harus memperhitungkan:
Mengidentifikasi para pemimpin yang sedang abngkit.
Menanamkan investasi dalam pengembangan para pemimpin yang sedang bangkit.
Mempercayakan tanggung jawab kepada para pemimpin yang sedang bangkit.
Kualitas karakter yang dicari dalam pemimpin yang sedang bangkit:
Selalu memiliki kemampuan alamiah untuk mempengaruhi orang lain.
Memiliki karakter yaitu kejujuran, kerendahan hati, kesetabilan, kemampuan untuk diajar, dan integritas untuk melayani pengaruh itu dengan baik.
Memiliki keahlian tentang manusia mencakup kepekaan terhadap pemikiran dan perasaan orang lain dan kemampuan untuk mendengarkan ide-ide orang lain.
Memiliki semangat, yaitu orang-orang yang berorientasi pada tindakan dan senang mengambil inisiatif.
Memiliki kecerdasan terutama kecerdasan mental yang diperlukan untuk memproses banyak informasi, menyaringnya, mempertimbangkan semua pilihan dan biasanya membuat keputusan yang benar.

Dalam pengembangannya melalui tiga fase yaitu:
Menggambarkan daftar kelima kualitas diri sendiri.
Menanamkan investasi pada pemimpin-pemimpin yang baru muncul.
Mempercayakan tanggung jawab kepada para pemimpin baru.

Para pemimpin yang efektif memiliki pengaruh besar bukan karena mereka sangat berbakat tetapi juga karena gaya kepemimpinan mereka sesuai dengan kebutuhan pelayanan tertentu. Menemukan dan mengembangkan gaya kepemimpinan yang unik adalah kunci utama menuju keefektivan kepemimpinan. Berikut gaya kepemimpinan:
Gaya Kepemimpinan visionaris. Ia memiliki gambaran yang jelas dalam benaknya mengenai apa yang akan terjadi di amsa depan. Pemimpin seperti itu menyebarkan visi yang kuat dan memiliki antusiasme yang tidak kenal lelah untuk mengubah visi-visi itu menjadi kenyataan.
Gaya kepemimpinan yang memberi arah. Kekuatan kepemimpinan seperti itu adalah kemampuan yang Allah berikan kepada mereka untuk memilih jalur yang tepat bagi suatu organisasi saat organisasi itu berada di persimpangan kritis.
gaya kepemimpinan strategis. Ia memiliki kepampuan yang Allah berikan untuk mengambil visi yang menarik dan memecah-mecahnya menjadi langkah-langkah berurutan dan dapat dicapai. Karunia kepemimpinan seperti ini membuat organisasi dapat bergerak dengan terencana menuju terwujudnya misinya.
Gaya kepemimpinan tipe pengelola. Ia seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengorganisir orang-orang, proses, dan sumber daya untuk mencapai sebuah misi.
Gaya kepemimpinan pembangkit motivasi. Mereka memiliki kemampuan yang Allah berikan untuk mengobarkan semangat tim mereka. Mereka senantiasa mencari orang yang letih lesu dan dengan segera menyuntikan inspirasi yang tepatkepada mereka yang paling membutuhkan.
Gaya kepemimpinan tipe penggembala. Adalah seseorang yang membangun sebuah tim dengan perlahan-lahan, mengasihi para anggotanya dengan mendalam, memelihara mereka dengan lemah lembut, mendukung mereka secara konsisten, mendengarkan mereka dengan sabar, dan mendoakan mereka dengan rajin.
Gaya kepemimpinan pembangun tim. Ia mengetahui visi dan memahami bagaimana cara mencapainya, namum menyadari bahwa dibutuhkan sekelompok pemimpin dan pekerja untuk mencapai tujuan.
Gaya kepemimpinan tipe wiraswasta. Mereka berfungsi optimal pada tahap awal sesuatu. Jika tidak secara berkala melahirkan sesuatu yang baru mereka mulai kehilangan energi.
Gaya kepemimpinan rekayasa ulang. Mereka punya kemampuan untuk mengambil alih situasi yang kacau dan membuatnya berganti haluan.
Gaya kepemimpinan menjembatani. Mereka memiliki kemampuan yang unik untuk menyatukan di bawah satu kepemimpinan rangkaian luas dari berbagai kelompok yang berbeda-beda.

Empat langkah untuk menemukan dan mengembangkan gaya kepemimpinan Anda:
Identifikasikan gaya atau gaya-gaya kepemimpinan Anda.
Tentukan apakah gaya kepemimpinan Anda sesuai dengan situasi kepemimpinan saat ini.
Identifikasikan gaya kepemimpinan setiap anggota tim Anda. Pastikan agar setiap orang cocok dengan kebutuhan kepemimpinan yang tepat dan tentukan apakah ada kekosongan di dalam tim yang perlu diisi.
Abdikan diri Anda baik untuk mengembangkan gaya kepemimpinan yang dominan dan berkembang dalam gaya kepemimpinan yang lebih lemah.

Bill Hybels menganggap tidak ada indera keenam. Dia percaya bahwa para pemimpin yang memiliki karunia spiritual membangun, selama beberapa waktu, sebuah sistem nilai dan basis pengalaman yang dengan bijaksana memberikan informasi pada setiap keputusan selanjutnya yang mereka buat. Saat mereka dengan rajin menambahkan data base mereka tahun demi tahun, secara otomatis mereka meningkatkan rata-rata kemampuan mereka memimpin.

Bill Hybels dalam bukunya juga menceritakan tentang pemimpin 360 derajat yaitu memimpin orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab mereka (S), memimpin orang-orang di atas mereka (U), memimpin orang-orang yang sejajar dengan mereka (T-B), dan memimpin diri mereka sendiri. Disarankan memimpin diri sendiri menyita 50% waktu dan kemampuan terbaik kita. Dan saat kita melakukannya, elemen etikal, moral, dan spiritual dari menejemen tidak dapat dihindari lagi.
Beberapa pertanyaan yang diajukan ke diri sendiri untuk mengetahui tentang kepemimpinan ini:
Apakah panggilan saya pasti?
Apakah visi saya jelas?
Apakah semangat saya berkobar-kobar?
Sudahkan sayaa mengembangkan karunia-karunia saya?
Apakah karakter saya tunduk kepada Kristus?
Apakah keangkuhan saya berkurang?
Sudahkah saya mengatasi rasa takut?
Apakah masalah-masalah pribadi mengganggu kepemimpinan saya?
Apakah kecepatan langkah saya dapat dipertahankan?
Apakah kasih saya kepada Allah dan orang-orang semakin bertambah?

Kita pun perlu berdoa menjadikan diri kita seperti:
Daud yang optimis.
Yonatan yang mengasihi
Yusuf dengan integritasnya
Yosua dengan kemampuannya mengambil keputusan
Ester yang pemberani
Salomo yang bijaksana
Yeremia dengan otentisitas emosionalnya
Nehemia komitmen terhadap perayaan
Petrus dengan inisiatifnya
Paulus Yang fokus, etika kerjanya, kemampuan bersaingnya dan semangatnya untuk menang
Jalur-jalur kepemimpinan pun berbeda-beda. Yaitu jalus relasional, intelektual, pelayanan, kontemplatif, aktivis, penciptaan, dan ibadah. Kita perlu menemukan jalur kita, mendalaminya dan menghargai semua jalur. Tetapi juga jangan lupa membantu orang lain menemukan jalur mereka.
Bill juga memberikan tips untuk mempertahankan tujuan:
Pastikan agar panggilan Anda pasti dan tetap fokus.
Bertahan dengan mengembangkan keberanian untuk berubah.
Bertahan dengan menemukan orang-orang yang dapat diandalkan
Bertahan dengan sudut pandang yang abadi.